XtGem Forum catalog
Ⓜ️ USTAD MUKHLIS EMHAES. XTGEM.COM

Blog Home QuranGoogle
hikam

KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًاگثِیْراًإِلٰى أَبَدِ الآبِدِيْنَ
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah SWT. senantiasa merahmati-Nya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW; beserta keluarga, dan para sahabatnya. Shalawat dan salam sejahtera selamanya sampai hari kiamat ."

Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari.Rahimahullahu Ta'ala. Aamiiin Yaa Rabbal-'Aalamiin.

بِسْمِ اللّٰهِ الْرَّحْمٰنِ الْرَّحِیْمِ

Hikmah 1: Bersandar pada Amal:

مِنْ عَلامَةِ الاعْتِمادِ عَلى العَمَلِ، نُقْصانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجودِ الزَّللِ

Artinya:
Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada amal usahanya, adalah berkurangnya pengharapan (atas rahmat Allah) ketika ia melakukan kesalahan atau dosa.
• Syarah Ringkas:
Seorang pejalan ruhani (salik) tidak boleh sombong saat banyak beramal dan tidak boleh putus asa saat tergelincir berbuat dosa. Jika Anda merasa putus asa dari rahmat Allah setelah berbuat salah, itu tandanya Anda selama ini mengandalkan kesucian diri dan amal Anda sendiri, bukan bersandar pada kemurahan dan rahmat Allah semata.

Hikmah 2: Ahli Tajrid dan Ahli Sabab:

إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ
Artinya:
Keinginanmu untuk tajrid (hanya beribadah tanpa mencari nafkah) padahal Allah masih menempatkanmu pada maqam asbab (harus bekerja mencari nafkah) termasuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk masuk ke maqam asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada maqam tajrid, merupakan suatu penurunan dari cita-cita yang luhur.
• Syarah Ringkas:
Dua maqam kehidupan manusia:
• Asbab: Dituntut bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup.
• Tajrid: Dibukakan jalan rezeki tanpa harus bersusah payah sehingga fokusnya penuh pada ibadah/ilmu.
Menolak posisi yang telah Allah tentukan demi menuruti ego pribadi (ingin terlihat suci atau ingin terlihat kaya) merupakan tanda belum ridha pada ketetapan-Nya.

Hikmah 3: Kuatnya Tekad Tidak Akan Pernah Menembus Takdir:

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ
Artinya:
Kekuatan tekad yang menggebu-gebu (semangat yang tinggi) tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir.
• Syarah Ringkas:
Manusia wajib berikhtiar dan berniat baik, namun harus sadar bahwa keputusan akhir mutlak di tangan Allah. Keberhasilan suatu urusan murni karena izin Allah, bukan semata-mata karena kecerdasan atau kerja keras kita.
Hikmah ini mengajarkan ketundukan dan tawakal yang tinggi.

Hikmah 4: Istirahat dari Mengatur Dunia:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Artinya:
Istirahatkan dirimu (pikiranmu) dari kesibukan mengatur urusan duniamu. Apa yang telah dijamin atau diatur oleh selainmu (yahu Allah) untuk dirimu, tidak perlu engkau sibuk ikut campur memikirkannya.
• Syarah Ringkas:
Bukan berarti kita dilarang membuat rencana kerja atau rencana masa depan. Yang dilarang adalah tadbir atau teori yang disertai rasa cemas, stres, dan ketakutan berlebihan seolah-olah rezeki dan masa depan kita tidak dijamin oleh Allah. Kerjakanlah kewajiban, pasrahkanlah kemudian hasilnya.

Hikmah 5: Butanya Mata Hati:

إجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ
Artinya:
Kesungguhanmu mengejar apa yang telah dijamin untukmu (urusan rezeki duniawi), disertai kelalaianmu dalam melaksanakan apa yang dituntut darimu (ibadah dan kewajiban agama), menjadi bukti atas butanya mata hatimu.
• Syarah Ringkas:
Merupakan ironi yang besar ketika seorang hamba menghabiskan seluruh energi dan waktunya untuk memikirkan rezeki yang sudah dijamin oleh Allah, sementara mengabaikan ibadah dan syariat yang jelas yang telah diperintahkan oleh Allah. Hal ini mencerminkan rusaknya skala prioritas spiritual seseorang.

Hikmah 6: Doa yang Belum Dikabulkan:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِإِيَاسِكَ؛ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ
Artinya:
Jangan sampai keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu—padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa—menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Allah menjamin mengabulkan doa sesuai dengan pilihan-Nya untukmu, bukan menurut pilihanmu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.
• Syarah Ringkas:
Allah pasti mendengar doa hamba-Nya. Namun, karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita, Allah SWT. seringkali mengganti apa yang kita minta dengan sesuatu yang jauh lebih kita butuhkan, atau menunda pengabulannya hingga sa'at yang paling tepat bagi keselamatan dunia dan akhirat kita.

Hikmah Ke-7: Jangan Meragukan Janji Allah:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلَّا يَكُونَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيرَتِكَ، وَإِخْمَادًا لِنُورِ سَرِيرَتِكَ.
Artinya:
Janganlah kelambatan masa berlakunya sesuatu yang dijanjikan Allah—meskipun waktunya telah ditentukan—membuatmu ragu terhadap janji-Nya. Supaya keraguan itu tidak merusak pandangan mata hatimu (bashirah) dan tidak memadamkan cahaya batinmu (sirr).
Syarah Ringkas:
Allah Swt. telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya (seperti dalam QS. Ghafir: 60). Namun, adakalanya apa yang kita minta belum terwujud pada waktu yang kita inginkan. Syekh Ibnu 'Athaillah mengingatkan agar kita tetap berbaik sangka (husnudzon). Allah Maha Tahu kapan waktu terbaik suatu nikmat diberikan. Jika kita ragu atau protes, hal itu akan mengaburkan mata hati kita (bashirah) dari melihat hikmah Ilahi dan merusak wilayah spiritual terdalam kita (sirr).

Hikmah Ke-8: Terbukanya Pintu Ma'rifat:

إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ؛ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ، أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ؟
Artinya:
Jika Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk ma'rifat (mengenal-Nya), maka janganlah engkau peduli meskipun amalmu sedikit. Sebab, Allah tidak membukakan jalan tersebut melainkan karena Dia ingin memperkenalkan Diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa ma'rifat adalah karunia pemberian-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah hadiah yang engkau persembahkan kepada-Nya? Maka, dimanakah perbandingan antara apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa yang Dia karuniakan kepadamu?"
Syarah Ringkas:
Amal ibadah lahiriah kita sangatlah terbatas dan penuh kekurangan. Ketika suatu hari hati kita tiba-tiba merasakan kedekatan, ketenangan, dan pengenalan yang mendalam kepada Allah (makrifat), janganlah merasa minder karena amalmu yang sedikit. Makrifat murni datang dari kehendak Allah untuk merangkul hamba-Nya. Hadiah dari Sang Raja (Allah) tentu jauh lebih mulia daripada oleh-oleh kecil yang dibawa oleh seorang hamba yang lemah.

Hikmah Ke-9: Keaneka ragaman Amal dan Keadaan Hati:

تَنَوُّعُ أَجْنَاسِ الْأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ.
Artinya:
Beraneka ragamnya jenis amal perbuatan itu disebabkan karena bermacam-macamnya kondisi spiritual (waridatul ahwal) yang masuk ke dalam hati.
Syarah Ringkas:
Manusia tidak selamanya melakukan satu jenis ibadah saja. Terkadang kita lebih condong membaca Al-Quran, di waktu lain asyik berzikir, bersedekah, atau menolong sesama. Perubahan jenis amal. Ini digerakkan oleh kondisi batin (ahwal) yang sedang ditiupkan Allah ke dalam hati hamba-Nya. Saat hati dipenuhi rasa takut (khauf), amalnya akan berbeda dengan saat hati sedang dipenuhi rasa harap (raja) atau rasa cinta (mahabbah). Semua variasi ini adalah rahmat agar pejalan spiritual (salik) tidak merasa bosan dalam beribadah.

Hikmah Ke-10: Ikhlas adalah Ruh Amal:

الْأَعْمَالَ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلَاصِ فِيهَا.
Artinya:
'Amal perbuatan itu laksana kerangka/jasad yang tegak berdiri, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas di dalam amal tersebut.
Syarah Ringkas:
Gerakan shalat, puasa, haji, dan sedekah yang kita lakukan secara fisik barulah berupa jasad mati yang tidak memiliki nilai di hadapan Allah jika kehilangan substansinya. Nilai kehidupan dari sebuah amal terletak pada keikhlasan hati.Ya'ni beramal murni karena Allah semata, tanpa pamrih keduniawian atau pujian makhluk. Tanpa ikhlas, amal tersebut hanyalah bangkai spiritual yang tidak akan naik ke hadirat-Nya.

Hikmah Ke-11: Anjuran Memendam Eksistensi (Khumul):
ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَائِجُهُ.
Artinya:
Kuburlah eksistensimu di dalam bumi khumul (tidak dikenal/ketenaran yang rendah); sebab segala sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam/dikubur terlebih dahulu, buahnya tidak akan pernah sempurna.
Syarah Ringkas:
Khumul artinya tidak gila hormat, tidak mencari popularitas, dan menahan diri dari sifat ingin tampil (syuhrah/viral). Sebelum seseorang menjadi guru atau pemimpin spiritual yang kokoh, ia harus menanam dirinya dalam proses belajar, beribadah, dan membersihkan hati dalam kesunyian (tahapan 'uzlah atau tadfin). Biji yang diletakkan begitu saja di atas permukaan tanah akan mati dipatuk burung. Namun, biji yang dikubur di dalam tanah akan tumbuh menjadi pohon rimbun yang menghasilkan buah yang manis dan bermanfaat luas.

Hikmah Ke-12: Manfa'at 'Uzlah (Mengasingkan Diri):

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا فِي مَيْدَانِ فِكْرَةٍ.
Artinya:
Tidak ada sesuatu yang sangat bermanfa'at bagi hati sebagaimana 'uzlah (mengasingkan diri dari keramaian makhluk) yang dibarengi dengan masuk ke medan tafakur (perenungan).
Syarah Ringkas:
'Uzlah (menyendiri) bukan berarti menjauh dari manusia, melainkan sarana untuk menenangkan hati agar bisa berpikir jernih (fikrah). Dengan menjauh sementara waktu dari kesibukan dunia dan hiruk-pikuk makhluk, hati dapat merenungi keagungan Allah, mengingat dosa-dosa diri, serta memikirkan hakikat kehidupan. Di medan tafakur inilah lantera iman di dalam qalbu akan menyala terang kembali.

Hikmah Ke-13: Hijab-Hijab Hati:

كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللَّهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ زَلَّاتِهِ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin hati dapat bersinar, sementara bayangan alam semesta masih melekat pada cermin hatinya? Atau bagaimana mungkin hati bisa berjalan menuju Allah, sedangkan ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau bagaimana mungkin ia berharap masuk ke hadirat Allah, sedangkan ia belum suci dari jinabat kelalaiannya? Atau bagaimana mungkin ia berharap dapat memahami rahasia yang mendalam (daqaiqul asrar), sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahan-kesalahannya?
Syarah Ringkas:
Syekh Ibnu 'Athaillah memberikan empat perumpamaan logis mengenai penghalang (hijab) antara manusia dengan Tuhannya:
1. Hati itu seperti cermin; jika cermin penuh dengan coretan gambar dunia, cahaya Ilahi tidak akan memantul di dalamnya.
2. Seseorang yang kakinya dirantai oleh hawa nafsu tidak akan pernah bisa melangkah menempuh perjalanan spiritual (suluk).
3. Lalai kepada Allah disamakan dengan keadaan junub besar; seseorang harus "mandi wajib" dengan mengingat-Nya (dzikrullah) sebelum bertamu ke hadirat-Nya.
4. Ilmu-ilmu hakikat dan hikmah batin hanya diletakkan Allah pada wadah yang bersih, yaitu hati yang telah dibasuh dengan taubat nasuha.

Hikmah Ke-14: Alam Semesta adalah Kegelapan:

الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الْحَقِّ فِيهِ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الْأَنْوَارِ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.
Artinya:
Alam semesta ini seluruhnya adalah kegelapan, dan ia menjadi terang hanya karena adanya penampakan (zhuhur) Allah di dalamnya. Barangsiapa melihat alam semesta namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di dekatnya, atau sebelum atau sesudahnya, maka sesungguhnya ia telah kehilangan cahaya. Dan matahari makrifat telah terhalang darinya oleh awan-awan benda duniawi.
Syarah Ringkas:
Secara hakikat, alam semesta ini tidak memiliki kekuatan atau wujud mandiri; ia adalah ketiadaan ('adam) dan kegelapan. Keberadaan alam ini menjadi ada, dan terlihat semata-mata karena diciptakan dan ditopang oleh cahaya wujud Allah SWT. Orang yang awam hanya melihat indahnya gunung, laut, dan manusia secara lahiriah saja. Namun, bagi orang yang 'arif (ma'rifat), setiap kali ia melihat keindahan atau keteraturan alam, hatinya langsung menembus dan menyaksikan keagungan Sang Pencipta yang ada (Wujud) di balik semua ciptaan tersebut.

Hikmah ke-15: Bukti Kekuasaan Allah:

مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ
Artinya:
Di antara bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan mutlak Allah (Al-Qahhar) Yang Mahasuci adalah Dia mampu menghalangimu (menghijabmu) dari melihat-Nya melalui sesuatu yang sebenarnya tidak ada bersama-Nya.
• Syarah Ringkas: Para ahli ma'rifat ('arifin) sepakat bahwa segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya adalah tiada (fana). Alam semesta ini ada hanya karena mewarisi wujud yang diciptakan dan ditopang oleh Allah. Sungguh luar biasa kekuasaan Allah, sesuatu makhluk yang aslinya "tidak ada" justru bisa menjadi dinding tebal yang menghalangi manusia untuk menyaksikan Penciptanya.

Hikmah ke-16: Allah Tidak Bisa Dihijab:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab (ditutupi) oleh sesuatu? Padahal Dialah yang menampakkan (mewujudkan) segala sesuatu.
• Syarah Ringkas: Sesuatu yang terwujud karena ditampakkan oleh Allah tidak akan pernah bisa menutupi Dzat yang menampakkannya. Cahaya makhluk tidak sebanding dengan cahaya Sang Khalik.

Hikmah ke-17: Kedekatan Wujud Allah:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab oleh sesuatu? Padahal Dia tampak pada segala sesuatu.
• Syarah Ringkas: Bagi orang yang memiliki pandangan batin (bashirah), setiap kali mereka melihat makhluk atau keindahan alam, yang mereka lihat pertama kali adalah keagungan, sifat, dan perbuatan Allah di balik ciptaan tersebut.

Hikmah ke-18: Keberadaan Allah Sebelum Segala Sesuatu:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ؟ كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي كَانَ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak dalam segala sesuatu? Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab oleh sesuatu, padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu.
• Syarah Ringkas: Allah bersifat Qadim (terdahulu) tanpa permulaan. Menganggap dunia atau materi bisa menutupi Allah adalah kekeliruan logika spiritual, sebab Allah sudah ada jauh sebelum tirai-tirai dunia itu diciptakan.

Hikmah ke-19: Kedekatan Allah yang Mutlak:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab oleh sesuatu? Padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu.
• Syarah Ringkas: Sesuai dengan firman-Nya, "Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri". Hijab atau pembatas itu sebenarnya bukan berasal dari Allah, melainkan akibat kelalaian dan syahwat ego manusia yang menjauh dari-Nya.

Hikmah ke-20: Hakikat Penciptaan Alam:
كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَلَوْلَاهُ مَا كَانَ وُجُودُ كُلِّ شَيْءٍ؟ يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُجُودُ فِي الْعَدَمِ، أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ الْقِدَمِ؟
Artinya:
Bagaimana mungkin dapat dibayangkan bahwa Dia bisa dihijab oleh sesuatu? Padahal jika tanpa Dia, tidak akan pernah ada segala sesuatu. Sungguh aneh! Bagaimana wujud yang hakiki (Allah) bisa tertutupi oleh fatamorgana yang asalnya tiada; Atau bagaimana mungkin sesuatu yang baru (makhluk) bisa bertahan bersandingan dengan Dzat yang memiliki sifat Qadim (terdahulu)?
• Syarah Ringkas: Alam semesta ini laksana bayangan. Bayangan tidak akan pernah ada tanpa adanya benda yang disinari. Jika seseorang hanya sibuk melihat bayangan (dunia) dan melupakan pemilik bayangan (Allah), maka batinnya sedang mengalami kebutaan spiritual.

Hikmah 21: Hakikat Menuntut dan Meminta:

طَلَبُكَ مِنْهُ اِتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ مِنْكَ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ
Artinya:
Permintaanmu kepada Allah (agar memberi rezeki yang sudah dijamin) merupakan bentuk kecurigaanmu kepada-Nya. Upayamu menuntut agar dekat dengan-Nya merupakan bukti kealpaanmu (ghaflah) dari-Nya. Permintaanmu kepada Allah demi kepentingan selain-Nya (duniawi) adalah karena sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Dan permintaanmu kepada selain Allah adalah bukti nyata atas jauhnya dirimu dari-Nya.
Syarah Ringkas:
Syekh Ibnu 'Atha'illah membagi tuntutan hamba menjadi empat "virus" hati:
1. Meminta rezeki yang dijamin: Menandakan kurangnya iman karena seolah-olah menganggap Allah tidak akan mencukupi kebutuhannya.
2. Menuntut kedekatan: Merasa jauh dan mengira Allah dibatasi jarak, padahal Allah selalu dekat (Akrab), hamba sajalah yang lalai.
3. Beribadah demi dunia: Beramal saleh hanya demi pujian makhluk atau kesenangan dunia menunjukkan kurangnya adab dan rasa malu kepada Pencipta.
4. Berharap pada makhluk: Bergantung dan meminta kepada selain Allah adalah tanda bahwa mata batin kita masih tertutup dan jauh dari ma'rifat.

Hikmah 22: Terjebak dalam Keindahan Lahiriah Alam:

مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيْهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيْكَ يُمْضِيْهِ
Terjemahan:
Tiada satu embusan napas pun yang engkau keluarkan, melainkan di dalamnya ada takdir Allah yang sedang berlaku atas dirimu.
Syarah Ringkas:
Setiap detik kehidupan hamba, bahkan dalam setiap tarikan dan embusan napas, tidak pernah lepas dari ketetapan dan ketentuan Allah. Seorang salik (pejalan spiritual) dituntut untuk selalu sadar (hudhur) pada setiap keadaan. Apakah napas itu keluar dalam ketaatan, kemaksiatan, nikmat, atau ujian, dan menanggapinya dengan sikap batin yang diridhai Allah (syukur atau sabar)?.

Hikmah 23: Dunia sebagai Ujian dan Fitnah:

لَا تَتَرَقَّبْ فُرُوغَ الْأَغْيَارِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُودِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيمَا هُوَ مُقِيمُكَ فِيهِ
Artinya:
Janganlah engkau menanti waktu luang dari segala kesibukan duniawi (untuk beribadah)! Karena hal itu akan memutusmu dari kewajiban merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) pada kedudukan yang sedang Dia tempatkan saat ini.
Syarah Ringkas:
Banyak orang menunda-nunda amal saleh atau kekhusyukan dengan alasan "nanti kalau urusan dunia/pekerjaan sudah selesai". Ini adalah tipu daya nafsu. Kewajiban seorang hamba adalah menyembah Allah dalam kondisi apa pun saat ini, baik saat sibuk bekerja maupun saat senggang. Bukan menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang.

Hikmah 24: Dunia adalah Tempat Semu, Hiruk-pikuk (fatamorgana):

لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا
Artinya:
Janganlah engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan (penderitaan) selama engkau masih berada di negeri dunia ini! Sebab, dunia tidak akan melahirkan kecuali apa yang sudah menjadi sifat asli dan karakter bawaannya.
Syarah Ringkas:
Dunia diciptakan sebagai tempat ujian, perubahan, dan kesusahan, bukan tempat kedamaian abadi (surga). Ketika kita ditimpa musibah, kegagalan, atau disakiti makhluk, jangan heran atau kecewa berlebihan. Sadarilah bahwa itulah sifat asli dunia agar kita tidak terpikat padanya dan selalu rindu pada akhirat.

Hikmah 25: Wujud Alam di Hadapan Sifat Qidam Allah:

يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُجُوْدُ فِي الْعَدَمِ، أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ الْقِدَمِ؟
Artinya:
Sungguh sangat mengherankan, bagaimana wujud (makhluk yang semu) bisa tampak di dalam ketiadaan ('adam), ataukah bagaimana sesuatu yang baru (hadits) dapat bertahan di samping Zat (Qadim) yang memiliki sifat terdahulu tanpa permulaan (Qidam)?
Syarah Ringkas:
Secara hakikat, alam semesta ini pada asalnya adalah tiada ('adam). Alam menjadi "tampak ada" hanya karena pancaran nur ndan ciptaan Allah. Di hadapan keagungan Allah yang Maha Kekal dan Maha Nyata, wujud alam ini sebenarnya sirna dan tidak memiliki kekuatan mandiri sedikit pun.

Hikmah 26: Tanda Keberhasilan di Akhir Perjalanan:

مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ، الرُّجُوْعُ إِلَى اللهِ فِي الْبِدَايَاتِ
Artinya:
Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjalanan (meraih ma'rifat) adalah selalu berserah diri dan kembali kepada Allah sejak awal mula melangkah.
Syarah Ringkas:
Jika seseorang memulai pertaubatan atau ibadahnya dengan bersandar pada kekuatan dirinya sendiri, ia akan gagal di tengah jalan. Namun, jika sejak awal melangkah ia sudah berserah diri, mengosongkan ego, dan mengandalkan pertolongan serta rahmat Allah semata, maka ia dijamin akan sampai pada puncak spiritual (wushul).

Hikmah 27: Awal yang Terang Membawa Akhir yang Cerah:

مَنْ أَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ، أَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ
Artinya:
Barangsiapa yang awal perjalanannya bersinar (dipenuhi kejujuran dan ketulusan), niscaya akhir perjalanannya pun akan bercahaya.
Syarah Ringkas:
Hikmah ini menyempurnakan hikmah sebelumnya. "Awal yang bersinar" artinya mengawali suluk atau amal dengan keikhlasan total karena Allah, mengikuti sunah, dan menjauhi pamrih duniawi. Hasil dari ketulusan di awal tersebut akan berbuah manis di akhir berupa tersingkapnya tirai ghaib (mukasyafah) dan kedekatan yang hakiki dengan-Nya.

Hikmah Ke-28: Cerminan Lahiriah dari Hati:

مَا اسْتُوْدِعَ فِيْ غَيْبِ السَّرَائِرِ، ظَهَرَ فِيْ شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ
Artinya:
Apa yang tersimpan rahasia dalam kegaiban hati (batin), akan tampak nyata pada cerminan lahiriah yang terlihat.
Syarah Ringkas:
Kondisi batin seseorang tidak akan bisa disembunyikan selamanya. Jika hatinya dipenuhi keikhlasan, ketakwaan, dan kecintaan kepada Allah, maka gerak-gerik, tutur kata, dan adab lahiriahnya akan ikut menjadi baik. Sebaliknya, jika batinnya buruk (seperti menyimpan kedengkian atau kesombongan), hal itu lambat laun akan merembes dan tecermin pada perilakunya sehari-hari.
Hikmah Ke-29: Hubungan Antara Awal dan Akhir Perjalanan:

مَنْ أَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ، أَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ
Artinya:
Barang siapa yang awal perjalanannya bersinar (pemberangkatan yang mulia), niscaya akhir perjalanannya pun akan bersinar (mencapai tujuan)."
Syarah Ringkas:
Keberhasilan di akhir perjalanan spiritual (wushul) sangat ditentukan oleh bagaimana seseorang memulainya (suluk). Jika seorang hamba mengawali ibadah dan taubatnya dengan ketulusan total, bersandar hanya kepada Allah, serta tunduk pada syariat, maka Allah akan menerangi hatinya dengan ma'rifat di akhir perjalanannya.
Hikmah Ke-30: Segala Sesuatu Berjalan Sesuai Takdir:
مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيْهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيْكَ يُمْضِيْهِ
Artinya:
Tidak ada satu desahan napas pun yang engkau hembuskan, melainkan di situ ada takdir Allah yang berlaku atas dirimu.
Syarah Ringkas:
Hikmah ini mengajarkan ketundukan mutlak kepada takdir Allah. Setiap detik dan setiap tarikan napas kita tidak lepas dari ketetapan-Nya, baik itu berupa takdir keta'atan, ujian, ni'mat, maupun cobaan. Seorang 'arif (orang yang mengenal Allah) akan selalu ridha dan tenang karena tahu segala yang terjadi sudah diatur oleh Sang Pencipta.
Hikmah Ke-31: Menuntut Hakikat ke Luar Kedudukan:
لَا تَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا، فَلَوْ أَرَادَكَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ
Artinya:
Janganlah engkau menuntut kepada Allah agar mengeluarkanmu dari suatu kondisi untuk menempatkanmu pada kondisi lain. Jika Allah menghendakimu (pindah), Dia pasti akan memindahkanmu tanpa perlu engkau menuntutnya.
Syarah Ringkas:
Jika saat ini Allah menempatkanmu dalam kondisi sibuk bekerja mencari nafkah (makam asbab), jalani dengan ridha dan tetap ber'ibadah sebisamu. Jangan memaksakan diri ingin segera ber'uzlah (fokus ibadah saja tanpa bekerja) jika masanya belum tiba. Jalani posisi yang Allah berikan saat ini dengan ikhlas sampai Allah sendiri yang mengubah keadaanmu lewat takdir-Nya.
Hikmah Ke-32: Keinginan Mengubah Takdir adalah Syahwat Tersembunyi:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ. وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ
Artinya:
Keinginanmu untuk tajrid (hanya beribadah tanpa mencari nafkah) padahal Allah masih menempatkanmu pada maqam asbab (harus bekerja), termasuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu pada asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada maqam tajrid, merupakan penurunan dari cita-cita yang luhur.
Syarah Ringkas:
Seorang hamba harus tahu diri di mana posisinya ditempatkan oleh Allah. Menolak bekerja demi terlihat shaleh padahal kebutuhan keluarga terbengkalai adalah bentuk "syahwat tersembunyi" (hawa nafsu yang dibungkus agama). Sebaliknya, jika Allah sudah mencukupi kebutuhanmu tanpa bekerja agar kamu fokus beribadah, tetapi kamu malah sibuk mengejar duniawi, itu adalah tanda mundurnya kualitas spiritualmu.
Hikmah Ke-33: Memilih Sahabat dalam Perjalanan Ruhani:

وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ. فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟ وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ؟
Artinya:
Sungguh, bersahabat dengan orang bodoh yang tidak ridha (selalu mengoreksi) nafsunya, itu lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang 'alim (pandai) yang ridha terhadap nafsunya sendiri. Ilmu macam apa yang dimiliki orang 'alim yang ridha pada nafsunya, dan kebodohan macam apa yang ada pada orang bodoh yang tidak ridha pada nafsunya?
Syarah Ringkas:
Bahaya terbesar dalam spiritual adalah sifat 'ujub (kagum pada diri sendiri). Orang pandai yang merasa dirinya sudah sempurna dan selalu membenarkan nafsunya justru bisa menularkan kesombongan. Sementara orang awam yang menyadari kekurangannya dan terus berusaha memperbaiki diri jauh lebih aman untuk dijadikan teman, karena ia membawa aura ketawadhu'an.

Hikmah 34: Membersihkan Diri dari Sifat Kemanusiaan yang Tercela:

اُخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ، لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيباً، وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيباً

Artinya:
Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu yang bertentangan dengan kehambaanmu, agar engkau mudah menyambut panggilan Allah (Al-Haq) dan dekat dengan hadirat-Nya.

Syarah Ringkas:
Syaikh Ibnu 'Atha'illah mengingatkan bahwa manusia memiliki sifat-sifat dasar (basyariyah). Ada sifat yang netral seperti makan dan tidur, namun ada yang bertentangan dengan esensi ubudiyah (penghambaan), seperti sombong, egois, tamak, dendam, dan pamer. Selama hati masih dikuasai sifat tercela ini, kita akan tuli terhadap panggilan kebenaran dan jauh dari Allah. Solusinya adalah melakukan riyadhah (latihan spiritual) dan membersihkan hati.


Hikmah 35: Tanda Awal dan Akhir Perjalanan Ruhani:

مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ، الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ فِي البِدَايَاتِ

Artinya:
Di antara tanda keberhasilan di akhir perjuangan adalah kembali (bersandar) kepada Allah pada permulaannya.

Syarah Ringkas:
Seorang penempuh jalan spiritual (salik) yang mengawali langkahnya dengan selalu melibatkan Allah, bertawakkal, dan sadar akan kelemahannya, dijanjikan akan mencapai akhir yang gemilang (wushul). Sebaliknya, jika sejak awal ia bersandar pada kekuatan amalnya sendiri atau ambisi dunianya, ia rentan goyah dan gagal di tengah jalan.


Hikmah 36: Cahaya dan Tingkatan Mata Hati (Bashirah):

شُعَاعُ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ، وَعَيْنُ البَصِيرَةِ تُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ، وَحَقُّ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُودَكَ

Artinya:
Sinar mata hati (Syu'a'ul-Bashirah) membuatmu menyaksikan kedekatan Allah kepadamu. Inti mata hati ('Ainul-Bashirah) membuatmu menyaksikan ketiadaan dirimu karena keberadaan-Nya. Dan hakikat mata hati (Haqqul-Bashirah) membuatmu hanya menyaksikan wujud Allah, bukan ketiadaanmu dan bukan pula wujudmu.

Syarah Ringkas:
Hikmah ini membagi ma'rifat (tingkat kesadaran batin) menjadi tiga tingkatan:
1. Syu'a'ul-Bashirah (Ilmul Yaqin): Menggunakan dalil dan akal untuk sadar bahwa Allah selalu mengawasi dan dekat.
2. 'Ainul-Bashirah ('Ainul Yaqin):
Kondisi fana, di mana hamba begitu tenggelam dalam keagungan Allah hingga merasa dirinya tidak ada apa-apanya.
3. Haqqul-Bashirah (Haqqul Yaqin): Tingkatan tertinggi (baqa), di mana ia melihat segala sesuatu di alam semesta ini tegak hanya karena Allah, tanpa terjebak pada ada atau tiadanya makhluk.


Hikmah 37: Keabadian Wujud Allah:

كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ

Artinya:
Allah telah ada sejak dahulu kala dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya. Dan Dia sekarang tetap sama seperti semula.

Syarah Ringkas:
Sifat Allah adalah Qadim (terdahulu tanpa permulaan). Sebelum alam semesta, ruang, dan waktu diciptakan, Allah sudah ada. Penciptaan makhluk tidak menambah atau mengurangi keagungan Zat-Nya. Kalimat ini menegaskan kemurnian tauhid, bahwa alam semesta ini hanyalah bayangan dari kekuasaan-Nya, sementara realitas sejati yang mutlak hanyalah Allah.


Hikmah 38: Menujukan Cita-Cita Hanya kepada Allah:

لَا تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ، فَالكَرِيمُ لَا تَتَخَطَّاهُ الآمَالُ

Artinya:
Janganlah cita-cita dan hasratmu melampaui Allah menuju kepada selain-Nya, sebab Zat Yang Maha Pemurah (Al-Karim) tidak akan dilewati oleh berbagai harapan.

Syarah Ringkas:
Jika menginginkan sesuatu, baik kebaikan dunia maupun akhirat, mintalah dan gantungkanlah harapan itu langsung kepada Allah. Allah adalah Al-Karim (Maha Pemurah), yang memberi sebelum diminta dan memberi melebihi ekspektasi hambanya. Sungguh keliru jika seseorang melompati Sang Pemilik Segala Sesuatu demi meminta kepada makhluk yang sama-sama lemah dan tidak memiliki apa-apa.



Hikmah 39: Jangan Meminta Hajat kepada Selain Allah:

لَا تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُوْرِدُهَا عَلَيْكَ، فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعاً؟ مَنْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ، فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعاً؟

Artinya:
Jangan sekali-kali engkau mengadukan suatu kebutuhan (hajat) kepada selain Allah, padahal Dialah yang mendatangkan kebutuhan itu kepadamu. Bagaimana mungkin selain-Nya dapat mengangkat apa yang telah ditetapkan oleh-Nya; dan bagaimana mungkin orang yang tidak mampu mengangkat kebutuhan dari dirinya sendiri, akan mampu mengangkat kebutuhan orang lain?

Syarah Ringkas:
Setiap kesulitan, kemiskinan, atau penyakit yang menimpamu datang atas izin dan kehendak Allah sebagai ujian. Oleh karena itu, ketuklah pintu Allah terlebih dahulu untuk melepaskannya. Menaruh kepercayaan penuh kepada makhluk untuk menyelesaikan masalah adalah bentuk ilusi batin, karena makhluk sendiri tidak kuasa memberi manfa'at atau menolak mudharrat bagi dirinya sendiri tanpa izin Allah. (Catatan: Berikhtiar mencari sebab formal/manusia tetap diperbolehkan syariat, asalkan hati tetap yakin hanya Allah yang mengabulkan).



Hikmah 40: Menilai Kebaikan Berdasarkan Sahabat:

مَا حَسُنَ ظَنُّكَ بِهِ إِلَّا لِأَجْلِ وُجُودِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ مِنْ شُمُولِكِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ
(Catatan: Versi matan lain, hikmah no. 40 berbunyi tentang pertemanan atau persangkaan baik):

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ إِلَى اللهِ حَالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

Artinya: (Tentang Pertemanan)
Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang kondisinya (hal) tidak membangkitkan semangatmu kepada Allah, dan perkataannya tidak membimbingmu menuju Allah.

Syarah Ringkas:
Lingkungan dan lingkaran pertemanan sangat memengaruhi kondisi spiritual seseorang. Syaikh Ibnu 'Atha'illah melarang kita berteman akrab dengan orang yang membuat kita lalai dari akhirat. Carilah sahabat yang ketika kita melihat perilakunya, kita termotivasi untuk ibadah, dan ketika ia berbicara, ucapannya selalu mengingatkan kita kepada Allah SWT.


PEMBERITAHUAN JADWAL IMSAKIAH
WAKTU SHALAT
EDIT NAMA KOTA:



xtgem
Log in