Berikut (penjelasan ringkas) dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari Rahimahullahu Ta'ala. Aamiiin melanjutkan Hikmah ke-41 dst.: Hikmah 41: Mengejar yang Fana dan Meninggalkan yang Kekal:
العَجَبُ كُلُّ العَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّا لَا اِنْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ مَا لَا بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya:
Sangat mengherankan orang yang lari dari sesuatu yang tidak akan terlepas darinya, dan sebaliknya mencari sesuatu yang tidak akan kekal bersamanya. Sebab sesungguhnya bukanlah mata kepala yang buta, melainkan yang buta ialah mata hati yang ada di dalam dada (QS. Al-Hajj: 46).
Syarah Singkat:
Hikmah ini menegur manusia yang sibuk melarikan diri atau berpaling dari Allah, padahal tidak ada satu makhluk pun yang bisa lepas dari genggaman dan aturan-Nya. Di sa'at yang sama, manusia justru mati-matian mengejar dunia yang pasti akan lenyap dan meninggalkannya. Ini adalah tanda kebutaan mata hati (buta batin).
Hikmah 42: Kualitas 'Amal Tergantung Kondisi Hati:
مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبِ زَاهِدٍ، وَلَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ
Artinya:
Tidak dapat dianggap sedikit 'amal yang bersumber dari hati yang zuhud, dan tidak dapat dianggap banyak amal yang bersumber dari hati yang tamak (cinta dunia).
Syarah Singkat:
Nilai sebuah 'ibadah di sisi Allah bukan sekedar dari kuantitas lahiriahnya, melainkan dari keikhlasan dan kondisi hati pelakunya. 'Amal yang sedikit namun dilakukan oleh orang yang zuhud (hatinya bersih dari ketergantungan dunia) bernilai sangat besar karena selamat dari penyakit riya. Sebaliknya, 'amal sebanyak apa pun jika lahir dari hati yang raghib (rakus kedudukan atau pujian dunia) akan terasa hampa dan rapuh di sisi Allah.
Hikmah 43: Tanda Baiknya Amal dan Keadaan Spiritual:
حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنْ تَحْقِيقِ الْمَقَامَاتِ فِي الْعَطَايَا
Artinya:
Baiknya amal perbuatan merupakan buah dari baiknya kondisi hati (ahwal), dan baiknya kondisi hati bermula dari pemantapan kedudukan spiritual (maqamat) dalam menerima pemberian-pemberian Allah.
Syarah Singkat:
Gerak-gerik anggota badan dalam keta'atan ('amal lahiriah) merupakan cerminan langsung dari kondisi bathin seseorang. Jika hatinya dipenuhi dengan rasa syukur, khauf (takut kepada Allah), dan raja (berharap pada rahmat Allah), maka 'amal perbuatannya otomatis akan menjadi baik dan ikhlas.
Hikmah 44: Tanda Hati yang Mati:
مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنَ الزَّلَّاتِ
Artinya:
Di antara tanda-tanda matinya hati adalah tidak adanya rasa sedih atas terlewatkannya kesempatan melakukan keta'atan, dan tidak adanya penyesalan atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan.
Syarah Singkat:
Hati yang sehat akan merasa perih jika kehilangan waktu untuk ber'ibadah dan merasa sangat bersalah ketika tergelincir dalam ma'shiat. Jika seseorang merasa biasa saja sa'at meninggalkan shalat atau sa'at berbuat dosa, itu adalah alarm nyata bahwa hatinya sedang membeku atau bahkan telah mati.
Hikmah 45: Dosa yang Menumbuhkan Penyesalan:
لَا يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَحْجُبُكَ عَنْ حُسْنِ الرَّجَاءِ بِاللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ
Artinya:
Jangan sampai suatu dosa terasa begitu besar di matamu hingga menghalangimu untuk berbaik sangka (husnuzhzhan) dan berharap kepada Allah. Karena barang siapa yang benar-benar mengenal Tuhannya, ia akan melihat bahwa dosanya yang besar sekalipun masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kemurahan dan ampunan-Nya.
Syarah Singkat:
Seorang mumin tidak boleh meremehkan dosa, tetapi ia juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Rasa takut akan dosa harus diimbangi dengan keyakinan kuat bahwa pintu maghfirah (ampunan) Allah teramat luas bagi hamba yang mau bertaubat dengan tulus.
Hikmah 46: Dampak Buruk Salah Memilih Sahabat:
رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئاً فَأَرَاكَ الإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ لِمَنْ هُوَ أَسْوَأُ حالاً مِنْكَ
Artinya:
Bisa jadi engkau adalah orang yang berbuat buruk, namun perbuatanmu itu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang kondisi spiritualnya lebih buruk darimu.
Singkat Syarah:
Hikmah ini memperingatkan bahaya salah memilih teman dekat. Ketika kita berteman dengan orang yang jauh lebih buruk ibadah atau akhlaknya, nafsu kita akan mudah merasa puas dan bangga dengan amal kita yang sedikit. Kita mengira diri kita sudah baik, padahal di hadapan standar yang benar, kita masih banyak kekurangan. Sahabat yang baik seharusnya adalah yang membuat kita merasa "kurang" dalam beramal agar terus memperbaiki diri.
Hikmah 47: Keutamaan Berkumpulnya Lahiriah yang Baik dan Kebaikan Hati:
مَا نَفَعَ الْقَلْبَ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ
Artinya:
Tidak ada yang memberi manfa'at kepada hati seperti sebuah isolasi diri ('uzlah) yang dengannya hati dapat memasuki medan kontemplasi (tafakkur).
Singkat Syarah:
Untuk memperbaiki kualitas amal lahiriah dan membebaskan hati dari ketergantungan pada makhluk, seseorang memerlukan waktu untuk menyendiri ('uzlah) dari hiruk-pikuk duniawi. Namun, 'uzlah yang bermanfa'at bukanlah sekadar mengurung diri, melainkan yang disertai dengan tafakkur (merenung) tentang keagungan Allah, dosa-dosa diri, dan hakikat kehidupan. Melalui medan tafakkur inilah mata hati akan tercerahkan.
Hikmah 48: Jangan Meninggalkan Dzikir karena Kelalaian:
لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ. فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقْظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقْظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
Artinya:
Janganlah engkau meninggalkan dzikir karena ketiadaan kehadiran hatimu bersama Allah di dalamnya. Sebab, kelalaianmu dari mengingat Allah (sama sekali tidak berdzikir) jauh lebih buruk daripada kelalaianmu sa'at sedang berdzikir. Harapannya, Allah akan mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju dzikir yang disertai kesadaran (yaqzhah), dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju dzikir yang disertai kehadiran hati (hudhur), dan dari dzikir yang disertai kehadiran hati menuju dzikir yang membuatmu fana (lenyap) dari segala sesuatu selain Dzat yang diingat hanya (Allah). Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.
Singkat Syarah:
Setan sering membisikkan agar kita berhenti berdzikir dengan alasan "percuma berdzikir kalau pikiran masih melayang ke mana-mana". Ibnu 'Atha'illah mematahkan argumen ini. Menggerakkan lisan untuk berdzikir meskipun hati lalai tetap lebih baik daripada lisan dan hati sama-sama lalai. Dzikir adalah sebuah proses bertahap; mulailah dari lisan, niscaya perlahan Allah akan menaikkan tingkatannya hingga meresap ke dalam kalbu yang paling dalam.
Hikmah 49: Akar dari Segala Kehinaan Diri:
مَا امْتَدَّتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلاَّ عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ
Artinya:
Tidaklah dahan-dahan kehinaan itu menjalar tumbuh, melainkan karena berasal dari benih ketamakan (keserakahan).
Singkat Syarah:
Pangkal dari hilangnya harga diri dan munculnya kehinaan seorang hamba adalah sifat tamak (berharap lebih pada pemberian makhluk). Ketika hati digantungi harapan terhadap harta, pujian, atau bantuan manusia, maka di sanalah ia menanam benih kehinaan karena akan selalu bersikap menghamba kepada selain Allah. Sebaliknya, sifat qana'ah dan wara' (merasa cukup dengan Allah) akan melahirkan kemuliaan jiwa yang sejati.
Hikmah 50: Bahaya Wahm (Ilusi dan Angan-Angan Kosong):
مَا قَادَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الْوَهْمِ
Artinya:
Tidak ada sesuatu yang dapat menuntunmu (memperdayakanmu) seperti halnya ilusi (angan-angan kosong).
Singkat Syarah:
Wahm adalah prasangka keliru atau bayangan palsu tentang dunia. Seseorang sering kali diperbudak oleh ketakutan akan hari esok (takut miskin, takut gagal) atau ambisi mengumpulkan dunia karena mengira hal itu akan mengekalkan kebahagiaannya. Ilusi-ilusi inilah yang menyetir hidup manusia hingga melupakan takdir dan jaminan yang telah Allah tetapkan. Hanya dengan keyakinan penuh (yaqin) kepada Allah, ilusi yang menyesatkan ini dapat dihancurkan. Hikmah 51: Kemerdekaan Sejati dari Makhluk;
أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ
Artinya:
Engkau merdeka dari sesuatu yang tidak engkau harapkan (putus asa darinya), dan engkau menjadi budak bagi apa yang engkau dambakan (tamak).
Singkat Syarah:
Syaikh Ibnu 'Athaillah menjelaskan hakikat kebebasan jiwa. Ketika hati kita tidak lagi menggantungkan harapan atau keinginan kepada makhluk, maka sa'at itulah kita menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Sebaliknya, jika kita mulai tamak dan mengharapkan sesuatu dari manusia, secara tidak sadar kita telah menghambakan diri (menjadi budak) kepada mereka.
Hikmah 52: Digiring Lewat Ni'mat atau Ujian:
مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللَّهِ بِمُلَاطَفَاتِ الْإِحْسَانِ، قِيدَ إِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الِامْتِحَانِ
Artinya:
Siapa yang tidak mau menghadap kepada Allah karena kelembutan ihsan (nikmat)-Nya, maka dia akan digiring kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.
Singkat Syarah:
Allah mengajak hamba-Nya untuk mendekat melalui dua cara:
1. Adalah dengan kelembutan, yaitu ketika diberi kesehatan, harta, dan kebahagiaan, sang hamba bersyukur lalu mendekat. Namun, jika ni'mat tersebut justru membuatnya lalai, maka Allah akan menggunakan cara kedua, yaitu:
2. Memberikan cobaan atau musibah (rantai ujian) agar ia sadar dan kembali bersimpuh di hadapan-Nya.
Hikmah 53: Syukur yang Menjamin Tambahnya Ni'mat:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا
Artinya:
Siapa yang tidak mensyukuri ni'mat, maka ia telah bersiap-siap demi kehilangannya. Dan siapa yang mensyukurinya, maka ia telah mengikat ni'mat itu dengan ikatan yang kuat.
Singkat Syarah:
Hikmah ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran bahwa syukur adalah pengikat ni'mat yang paling kokoh. Mengabaikan syukur atas pemberian Allah, baik ni'mat lahir maupun batin sama saja dengan membuka pintu bagi hilangnya ni'mat tersebut. Sebaliknya, ucapan dan tindakan syukur akan membuat ni'mat itu menetap bahkan terus bertambah.
Hikmah 54: Masuk ke Ruang Kesaksian yang Lapang:
خُرُوجُكَ عَنْ سِجْنِ مَكُونِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُودِكَ، مَجِيءُ الْوَارِدِ إِلَى قَلْبِكَ
Artinya:
Keluarmu dari penjara eksistensi makhlukmu menuju ruang kesaksian (ma'rifat) yang lapang, terjadi seiring dengan datangnya warid (karunia spiritual) ke dalam hatimu.
Singkat Syarah:
Manusia sering kali terpenjara oleh keangkuhan diri (ego) dan ketergantungan pada dunia (makhluk). "Warid" adalah cahaya batin atau getaran keimanan yang Allah tiupkan langsung ke dalam hati hamba-Nya. Ketika warid itu datang, hancurlah dinding-dinding ego batiniah, sehingga seorang salik dapat menyaksikan keagungan Allah secara lapang tanpa terhalang oleh keduniawian.
Hikmah 55: Cahaya Batin sebagai Kendaraan Hati:
الْأَنْوَارُ مَطَايَا الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ
Artinya:
Cahaya-cahaya (spiritual) adalah kendaraan bagi hati dan nurani (sirr).
Singkat Syarah:
Hati tidak akan bisa berjalan atau menempuh perjalanan spiritual menuju Allah tanpa adanya kendaraan. Kendaraan tersebut adalah Anwar (cahaya batin). Cahaya inilah yang menerangi jalan batin manusia, mengusir kegelapan ma'shiyat serta keraguan, sehingga hati bisa melesat cepat menuju ma'rifatullah (mengenal Allah). Hikmah Ke-56: Nilai Amal Berdasarkan Hati:
مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ ، وَلاَ كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ
Artinya:
Tidak dapat dianggap sedikit/kecil suatu amal yang lahir dari hati yang zuhud (tidak terikat dunia). Dan tidak dapat dianggap banyak suatu amal yang lahir dari hati yang rakus (cinta dunia).
Syarah Singkat:
Nilai sebuah amal di sisi Allah tidak diukur dari kuantitas fisik atau jumlah lahiriahnya semata, melainkan dari kondisi hati orang yang mengamalkannya. Seseorang yang hatinya bersih dari keterikatan dunia (zuhud), walaupun amalnya sedikit, bernilai sangat besar karena keikhlasannya yang murni. Sebaliknya, amal yang menggunung namun lahir dari hati yang haus akan pujian, kedudukan, atau keuntungan duniawi (raghib), sejatinya bernilai sangat kecil dan rapuh di hadapan Allah.
Hikmah Ke-57: Tanda Penerimaan Amal (Buah yang Disegerakan):
مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيكَ ، وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيكَ
(Catatan: Dalam penomoran naskah syarah tertentu seperti Syaikh Abdullah asy-Syarqawi atau KH. Sholeh Darat, pasal 57 berbunyi tentang tanda kedudukan manusia di hadapan Allah, atau rasa manisnya ibadah).
مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ آجِلاً
Artinya:
Barangsiapa yang merasakan buah amalnya di dunia secara kontan (segera), maka hal itu menjadi dalil atau tanda diterimanya amal tersebut di akhirat kelak.
Syarah Singkat:
Buah amal yang kontan di dunia ini berbentuk rasa manis, tenang, dan lapang di dalam dada sa'at atau setelah melakukan keta'atan. Ketika Allah menganugerahkan kebahagiaan batin dan keikhlasan sa'at Anda ber'ibadah, itu adalah isyarat (basyarah) dari Allah bahwa amal tersebut diridhai dan insya Allah akan mendapatkan balasan mulia di akhirat.
Hikmah Ke-58: Mengenali Kedudukan Diri di Sisi Allah:
إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيمَا يُقِيمُكَ
Artinya:
Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah di dalam hal apa Dia menempatkan dirimu sekarang.
Syarah Singkat:
Untuk mengetahui apakah kita termasuk hamba yang dicintai atau dijauhi, kita tidak perlu menerawang hal gaib. Cukup lihat keseharian kita. Jika Allah menyibukkan waktu, pikiran, dan tenaga kita dalam keta'atan, khidmah kepada sesama, dan dzikir, berarti Allah sedang menempatkan kita di maqam (kedudukan) yang mulia. Namun, jika kita selalu sibuk dengan ma'shiat, kelalaian, dan urusan dunia yang sia-sia, itu tanda kita sedang jauh dari rahmat-Nya.
Hikmah Ke-59: Konsistensi Berdzikir dalam Segala Kondisi:
لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، فَلأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ
Artinya:
Janganlah engkau meninggalkan dzikir hanya karena engkau belum bisa menghadirkan hati (khusyu') bersama Allah di dalamnya. Sebab, kelalaianmu dari (sama sekali tidak) berdzikir itu jauh lebih berbahaya daripada kelalaianmu saat sedang berdzikir.
Syarah Singkat:
Banyak orang berhenti membaca wirid atau dzikir karena merasa hatinya masih melayang-layang (tidak khusyu'). Ibnu 'Athaillah melarang hal ini. Lebih baik lisan tetap bergerak berdzikir meskipun hati lalai, daripada lisan dan hati sama-sama lalai dan membisu dari mengingat Allah.
Hikmah Ke-60: Tingkatan Jalinan Dzikir Hingga Fana:
فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ، {وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ}
Artinya:
Maka mudah-mudahan Allah menaikkan maqammu; dari dzikir yang disertai kelalaian (ghafilah) menuju dzikir yang disertai kesadaran (yaqzhah). Dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju dzikir yang disertai kehadiran hati (hudhur). Dan dari dzikir yang disertai kehadiran hati menuju dzikir yang melenyapkan dirimu dari segala sesuatu selain Dzat yang engkau dzikirkan (ghaybah/fana). Dan yang demikian itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah.
Syarah Singkat:
Ini adalah kelanjutan langsung dari hikmah ke-59. Syaikh menjelaskan tahapan spiritual seorang hamba dalam berdzikir "Dzikir Ghaflah" Lisan berdzikir, hati memikirkan dunia.
"Dzikir Yaqzhah" Hati mulai sadar dan waspada bahwa ia sedang berhadapan dengan Allah.
"Dzikir Hudhur". Hati merasakan keagungan Allah secara penuh sa'at melafazhkannya.
"Dzikir Ghaybah (Fana)". Puncak ma'rifat, di mana sang hamba begitu tenggelam dalam keindahan Allah hingga ia lupa pada dirinya sendiri dan alam semesta.
Hikmah Ke-61: Keadilan dan Karunia Allah atas Dosa:
لاَ صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ، وَلاَ كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ
Artinya:
Tidak ada dosa yang dianggap kecil jika Allah menghadapimu dengan keadilan-Nya (al-'Adlu). Dan tidak ada dosa yang dianggap besar jika Allah menghadapimu dengan karunia-Nya (Fadhal).
Syarah Singkat:
Jangan pernah meremehkan dosa sekecil apa pun, karena jika Allah mengadili kita murni dengan hukum keadilan-Nya yang ketat tanpa ampunan, dosa kecil tersebut bisa menyeret kita ke dalam binasa. Sebaliknya, jangan pernah berputus asa dari dosa sebesar apa pun, karena jika Allah menyambut kita dengan keluasan karunia, rahmat, dan maghfirah-Nya, dosa sebesar gunung pun akan langsung sirna tak berbekas. Hikmah 62: Amal yang Paling Berpeluang Diterima:
عَمَلَ أَرْجَى لِلْقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ، وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ
Artinya:
Tidak ada amal yang lebih diharapkan untuk diterima (di sisi Allah) melebihi amal yang engkau lupakan keberadaannya (tidak pamer/tidak merasa berjasa) dan engkau anggap kecil maknanya.
Syarah Ringkas:
Amal kebaikan yang paling tulus adalah amal yang lahir dari keikhlasan yang murni. Ketika seorang hamba merasa amalnya sudah banyak atau menganggap amalnya besar, di situ terdapat bahaya penyakit hati seperti riya (pamer), 'ujub (bangga diri), dan merasa tidak butuh rahmat Allah. Sebaliknya, jika ia memandang amalnya selalu sedikit, hina, dan tidak diingat-ingat lagi, maka itulah tanda amal yang diridhai dan paling berpeluang besar diterima oleh Allah SWT.
إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا
Artinya:
Sesungguhnya Allah menurunkan warid (ilham, cahaya ma'rifat, atau getaran spiritual ke dalam hati) kepadamu, semata-mata agar dengan warid tersebut engkau dapat menghadap dan sampai (wushul) kepada-Nya.
Syarah Ringkas:
Warid adalah karunia rohani, kelapangan hati, ataupun kondisi batin (hal) yang Allah tiupkan ke dalam hati seorang hamba sa'at ber'ibadah. Syaikh Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa kelezatan spiritual dan kekhusyu'an tersebut bukanlah tujuan akhir. Semua rasa manis dalam 'ibadah itu diberikan sebagai "kendaraan" atau umpan agar hati kita semakin mendekat, mengenal, dan masuk ke hadirat Allah SWT, bukan justru membuat kita mandek dan malah mengagumi warid itu sendiri.
Hikmah 64: Fungsi Warid Membebaskan Jiwa:
أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيَسْتَلِمَكَ مِنْ يَدِ الْأَغْيَارِ، وَلِيُحَرِّرَكَ مِنْ رِقِّ الْآثَارِ
Artinya:
Allah menurunkan warid kepadamu untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman selain-Nya (makhluk), dan untuk membebaskanmu dari belenggu perbudakan urusan duniawi.
Syarah Ringkas:
Hati manusia sering kali terpenjara oleh kecintaan kepada makhluk, harta, tahta, dan hawa nafsu (aghyar dan atsar). Ketika Allah memberikan cahaya-Nya (warid) ke dalam hati, manusia akan menyadari betapa kerdilnya dunia ini. Cahaya ilahi inilah yang memutus rantai ketergantungan hati kita kepada selain Allah, sehingga kita merdeka dari penghambaan kepada dunia dan kembali menjadi hamba Allah yang sejati.
Hikmah 65: Warid Mengeluarkan dari Penjara Ego:
أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيُخْرِجَكَ مِنْ سِجْنِ وُجُودِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُودِكَ
Artinya:
Allah menurunkan warid kepadamu untuk mengeluarkanmu dari penjara wujudmu (keegoan diri) menuju luasnya ufuk penyaksianmu (akan keagungan Allah).
Syarah Ringkas:
"Penjara wujudmu" artinya adalah keterpautan seseorang pada ego diri, kepentingan pribadi, serta perasaan bahwa dirinya memiliki daya dan upaya. Melalui limpahan warid, sekat ego itu runtuh. Sang hamba tidak lagi melihat kehebatannya sendiri, melainkan menyaksikan (syuhud) bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semata-mata digerakkan oleh kasih sayang, kekuasaan, dan kehendak mutlak Allah SWT. Hikmah ke-66: Bahaya Merasa Aman dari Hukuman Allah:
مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ، فَيَقُولَ: لَوْ كَانَ هَذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْإِمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادَ. فَقَدْ يَقْطَعُ الْمَدَدَ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَنْعُ الْمَزِيدِ. وَقَدْ يُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَهُوَ لَا يَدْرِي، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيدُ.
Artinya:
Di antara kebodohan seorang murid (pejalan spiritual) adalah ketika ia berperilaku buruk (tidak beradab kepada Allah) lalu hukumannya ditangguhkan, kemudian ia berkata: "Seandainya perbuatanku ini buruk, niscaya Allah telah memutuskan bantuan-Nya dan menjauhkan aku". Padahal, bantuan (madad) itu boleh jadi telah diputuskan tanpa ia sadari, meskipun bentuknya hanya berupa tidak adanya tambahan karunia. Dan sungguh ia telah ditempatkan di posisi yang jauh dari Allah tanpa ia ketahui, meskipun bentuknya hanya dibiarkannya ia menuruti segala keinginannya.
Syarah Singkat:
Ibnu 'Athaillah mengingatkan agar kita tidak tertipu oleh istidraj (kesenangan yang melalaikan). Seseorang yang berbuat ma'siat atau beradab buruk namun merasa ibadahnya tetap jalan dan rezekinya lancar, mengira dirinya aman. Padahal, hilangnya kekhusyu'an, hilangnya rasa manis dalam ber'ibadah, serta dibiarkannya seseorang larut dalam nafsu dunianya adalah bentuk hukuman batin yang jauh lebih berat daripada hukuman fisik.
Hikmah ke-67: Menghargai Orang yang Istiqamah dalam Amal:
إِذَا رَأَيْتَ عَبْداً أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ، وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلَا بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ؛ فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.
Artinya:
Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah untuk terus menjaga wiridnya (rutinitas 'ibadah zhahir), dan Allah melanggengkannya dalam kondisi tersebut beserta limpahan bantuan-Nya yang terus-menerus, maka jangan sekali-kali engkau meremehkan apa yang telah dikaruniakan Tuhan-nya kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda kaum 'arifin (orang yang ma'rifat) atau keindahan kaum muhibbin (para pencinta Allah) pada dirinya. Sebab, jika bukan karena adanya pancaran cahaya ilahi (warid) di dalam hatinya, niscaya tidak akan ada wirid yang konsisten.
Syarah Singkat:
Kita dilarang meremehkan orang yang ibadahnya terkesan biasa saja atau bersifat formalitas (seperti rajin shalat sunnah, zikir harian) hanya karena mereka tidak terlihat seperti wali besar yang memiliki karamah. Keberhasilan seseorang untuk terus konsisten (istiqamah) dalam beribadah adalah bukti nyata bahwa Allah menaruh perhatian dan memberikan modal energi rohani (warid) ke dalam hatinya.
Hikmah ke-68: Keta'atan Tanpa Penerimaan, dan Dosa yang Membawa Kedekatan:
رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَباً فِي الْوُصُولِ.
Artinya:
Bisa jadi Allah membukakan pintu keta'atan untukmu, tetapi Dia tidak membukakan pintu penerimaan. Dan bisa jadi Dia menetapkanmu tergelincir dalam dosa, namun dosa itu justru menjadi sebab engkau sampai (wushul) kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Hikmah ini sangat terkenal karena menekankan pentingnya esensi hati. Seseorang bisa jadi rajin beribadah (ta'at), namun ibadah tersebut menimbulkan rasa sombong ('ujub) dan merasa lebih mulia dari orang lain, sehingga ibadahnya tertolak. Sebaliknya, ada orang yang berbuat dosa, namun dosa itu membuatnya sangat menyesal, hancur hatinya, merendah di hadapan Allah, dan bertobat nasuha, sehingga sikap tersebut mengantarkannya pada kedekatan yang hakiki dengan Allah.
Hikmah ke-69: Kedamaian Hati Melalui Ketundukan pada Takdir:
( مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا.
Artinya:
Ma'siat yang melahirkan rasa hina (di hadapan Allah) dan rasa sangat membutuhkan-Nya, itu lebih baik dari pada keta'atan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.
Syarah Singkat:
Hikmah ini merupakan kelanjutan dan penegasan dari hikmah sebelumnya. Inti dari penghambaan adalah rasa hina (dzull) dan miskin (iftiqar) di hadapan Allah. Jika keta'atan justru membuat seseorang merasa hebat ('izz) dan sombong (istikbar), maka keta'atan tersebut telah merusak esensi tauhid dalam dirinya.
Hikmah ke-70: Tanda Kebaikan yang Disegerakan:
مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ آجِلاً.
Artinya:
Barangsiapa yang menemukan buah dari amalnya disegerakan di dunia, maka hal itu merupakan dalil (tanda) adanya penerimaan amal tersebut di akhirat kelak."
Syarah Singkat:
Buah dari amal yang dimaksud di dunia bukanlah materi atau kekayaan, melainkan kelapangan dada, rasa manis sa'at bermunajat, ketenangan hati, serta ringannya tubuh untuk melakukan keta'atan berikutnya. Jika kita merasakan hal-hal spiritual ini setelah beramal, itu adalah tanda bahwa Allah meridai dan menerima amal kita.
Hikmah ke-71: Alasan Balasan Sempurna Hanya Ada di Akhirat:
إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الْآخِرَةَ مَحَلّاً لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ لَا تَسَعُ مَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ، وَلِأَنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيَهُمْ فِي دَارٍ لَا بَقَاءَ لَهَا.
Artinya:
Sesungguhnya Allah hanya menjadikan negeri akhirat sebagai tempat untuk membalas para hamba-Nya yang beriman; karena negeri dunia ini tidak akan luas/mampu menampung apa yang hendak Dia berikan kepada mereka, dan karena Allah mengagungkan derajat mereka untuk diberi balasan di negeri yang tidak kekal (fana).
Syarah Singkat:
Dunia adalah tempat yang sangat sempit dan terbatas, sedangkan nikmat yang ingin Allah berikan kepada orang beriman itu luar biasa besar dan tanpa batas. Selain itu, karena Allah sangat menghargai orang beriman, Dia tidak sudi memberikan hadiah utama-Nya di tempat yang rusak dan akan hancur. Hadiah terbaik dan kekal hanya layak diberikan di tempat yang kekal, yaitu akhirat. Hikmah 72: Dunia Bukan Tempat Balasan Hakiki:
Artinya:
Sesungguhnya Allah menjadikan negeri akhirat sebagai tempat pembalasan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, karena negeri dunia ini tidak akan mampu menampung apa yang ingin Allah berikan kepada mereka. Dan juga karena Allah menjaga derajat mereka agar tidak diberi balasan di dalam negeri yang fana (tidak kekal) ini.
Syarah Singkat:
Dunia ini sangat sempit, terbatas, dan penuh dengan kekurangan. Kebaikan serta ketaatan seorang mukmin nilainya terlalu agung jika hanya dibalas dengan kenikmatan duniawi yang cepat sirna. Oleh karena itu, Allah menunda balasan yang sempurna di akhirat kelak sebagai bentuk pemuliaan terhadap hamba-Nya.
Hikmah 73: Menghadap Allah Melalui Karunia atau Ujian
Artinya:
Barangsiapa yang tidak mau menghadap kepada Allah dengan kelembutan ihsan (karunia/nikmat) dari-Nya, maka dia akan digiring menuju Allah dengan rantai-rantai ujian (musibah).
Syarah Singkat:
Ada dua jalan manusia kembali kepada Allah:
1. Jalan Sukarela:
Sadar akan limpahan nik'mat, lalu terdorong untuk bersyukur dan ta'at.
2. Jalan Terpaksa:
Ketika diberi ni'mat dia lalai, maka Allah memberikan ujian (sakit, rugi, kehilangan) agar hatinya hancur dan terpaksa merengek kembali berdo'a kepada Allah. Ujian ini ibarat "rantai penjerat" yang menyelamatkan hamba dari kelalaian.
Artinya:
Barangsiapa yang tidak mensyukuri ni'mat, maka sungguh dia telah membuka peluang bagi hilangnya ni'mat tersebut. Dan barangsiapa yang mensyukurinya, berarti dia telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat.
Syarah Singkat:
Ni'mat itu ibarat hewan liar yang mudah lepas. Kufur ni'mat (menggunakannya untuk ma'siat atau tidak mengakuinya dari Allah) akan mengusir ni'mat tersebut secara perlahan maupun tiba-tiba. Sebaliknya, syukur adalah tali pengikat terbaik ('iqal) agar ni'mat tersebut bertahan, bahkan terus bertambah sesuai janji Allah di dalam Al-Quran.
Hikmah 75: Merasakan Kelembutan Allah di Balik Ujian:
Artinya:
Hendaknya rasa sakit dari cobaan yang datang tiba-tiba itu berkurang kepadamu, ketika engkau mengetahui bahwa Dialah (Allah) yang sedang mengujimu. Sebab, Dzat yang mendatangkan berbagai takdir kepadamu itu adalah Dzat yang selalu membiasakanmu dengan pilihan-pilihan terbaik-Nya.
Syarah Singkat:
Ketika musibah datang menimpa, rasa sakitnya akan berkurang atau terasa ringan jika mata hati (bashirah) memandang bahwa ujian tersebut datang dari Allah yang Maha Pengasih. Allah tidak pernah berniat menyiksa hamba-Nya; di balik ujian yang tampak pahit, selalu ada hikmah, pembersihan dosa, dan didikan spiritual yang terbaik bagi kita.
Artinya:
Barangsiapa yang mengira bahwa kelembutan-Nya terpisah dari takdir-Nya, maka yang demikian itu disebabkan oleh pendeknya (dangkalnya) pandangan mata hatinya.
Syarah Singkat:
Bagi seorang ahli ma'rifat, setiap takdir Allah baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan pasti mengandung kelembutan (luthf) Allah di dalamnya. Jika seseorang merasa bahwa sa'at ditimpa musibah Allah sedang tidak menyayangi atau mengabaikannya, itu adalah bukti bahwa keimanannya masih dangkal dan pandangannya hanya terpaku pada lahiriah musibah semata.