Polaroid
Ⓜ️ USTAD MUKHLIS EMHAES. XTGEM.COM

Blog Home QuranGoogle
Hikm

بِسْمِ اللٌٰهِ الْرَّحْمٰنِ الْرَّحِیْمِ


Berikut (penjelasan ringkas) dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari Rahimahullahu Ta'ala. Aamiiin melanjutkan Hikmah ke-77 dst.:
Hikmah 77: Konsistensi 'Ibadah (Wirid):

التَّكْسُ تَعَالَى: مَنْ رَأَيْتَهُ مُقِيمًا مَعَ الْوِرْدِ، وَقَدْ طَالَ عَلَيْهِ الْأَمَدُ وَلَمْ تَمُدَّهُ الْوَارِدَاتُ، فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا أَقَامَهُ اللَّهُ فِيهِ لِكَوْنِكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيَمَا الْعَارِفِينَ، فَلَوْلَا الْوَارِدُ مَا كَانَ الْوِرْدُ.

Artinya:
Jika engkau melihat seseorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya (konsisten beribadah), dan telah berlangsung lama namun ia belum juga menerima karunia warid (keistimewaan/pencerahan spiritual) dari Allah, maka jangan sekali-kali engkau meremehkan pemberian Tuhan kepadanya. Sebab kalau bukan karena pancaran kemurahan (warid), niscaya tidak akan ada kepatuhan lahiriah (wirid) itu.
Syarah Singkat:
Jangan menilai kedudukan seseorang di sisi Allah hanya berdasarkan fenomena karamah atau karunia spiritual yang tampak. Kemampuan seseorang untuk istiqamah melakukan ibadah (wirid) setiap hari tanpa bosan adalah sebuah anugerah batin (warid) yang sangat besar dari Allah SWT.



Hikmah 78: Hari Raya sang Murid (Pencari Ridha Allah):


قَوْمٌ أَقَامَهُمُ اللَّهُ لِخِدْمَتِهِ، وَقَوْمٌ خَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ. كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا.

Artinya:
Sebagian hamba sengaja ditempatkan oleh Allah untuk berkhidmat (beramal zahir/ibadah fisik), dan sebagian hamba yang lain dikhususkan untuk mencintai-Nya (fokus batin/ma'rifat). Kepada masing-masing golongan itu, Kami berikan bantuan dari karunia Tuhanmu, dan karunia Tuhanmu itu tidak dapat dihalangi.
Syarah Singkat:
Allah membagi peran hamba-Nya ke dalam beberapa kedudukan (maqam). Ada yang diberi taufik kuat dalam ,ibadah syari'at (shalat, sedekah, puasa, hajji), dan ada pula yang diberi kelebihan dalam rasa cinta, rindu, dan kedekatan rasa dengan Allah. Keduanya berada di jalan kebaikan selama tujuan akhirnya adalah Allah.



Hikmah 79: Hakikat Datangnya Karunia Rohani (Warid):


قَلَّمَا تَتَخَلَّفُ الْوَارِدَاتُ الْإِلَهِيَّةُ إِلَّا فِي النَّوَادِرِ، لِتَكُونَ الشَّرِيعَةُ مَحْفُوظَةً بِسُنَّتِهَا وَلِتَكُونَ الْحَقِيقَةُ مَصُونَةً بِعِزَّتِهَا.

Artinya:
Jarang sekali karunia-karunia ketuhanan (warid) terlambat datang, kecuali dalam beberapa kondisi langka. Hal itu agar syari'at tetap terjaga dengan sunnahnya (aturan-aturannya) dan agar hakikat tetap terlindungi dengan kemuliaannya.
Syarah Singkat:
Allah tidak pernah menahan anugerah pencerahan bagi orang yang beribadah secara tulus. Namun jika karunia rasa ni'mat/khusyu' sengaja ditunda, itu adalah cara Allah agar hamba tersebut tetap teguh menjalankan perintah syari'at demi ketulusan, bukan sekadar mengejar kenikmatan beribadah.



Hikmah 80: Karamah Hakiki Adalah Istiqamah:


عَلِمَ أَنَّكَ لَا تَصْبِرُ عَنْ مَشْهَدِهِ، فَأَشْهَدَكَ مَا بَرَزَ مِنْ صُنْعِهِ.

Artinya:
Allah mengetahui bahwa engkau tidak akan mampu bersabar untuk menyaksikan Dzat-Nya secara langsung, maka Dia memperlihatkan kepadamu apa yang lahir dari ciptaan-Nya.
Syarah Singkat:
Karena mata kepala manusia di dunia tidak mampu melihat Dzat Allah SWT. secara langsung, maka Allah menebarkan tanda-tanda kebesaran, keindahan, dan keagungan-Nya melalui makhluk ciptaan-Nya. Orang yang bijak ('arif) akan melihat sang Pencipta di balik indahnya ciptaan tersebut.



Hikmah 81: Dunia Tempat Beramal, Akhirat Tempat Membalas:


لَمَّا كَانَتِ الدُّنْيَا لَا تَتَّسِعُ لِمَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ مِنْ نَوَالِهِ، وَلِأَنَّ قَدْرَهُمْ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يُجَازِيَهُمْ فِي دَارٍ لَا بَقَاءَ لَهَا، أَجَّلَ جَزَاءَهُمْ إِلَى الْآخِرَةِ.

Artinya:
Karena dunia tidak cukup luas untuk menampung karunia yang ingin Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, dan karena kedudukan mereka terlalu mulia untuk diberi balasan di negeri yang tidak kekal (dunia), maka Allah menunda balasan penuh untuk mereka di akhirat kelak."
Syarah Singkat:
Jangan berkecil hati jika kebaikan dan keta'atanmu belum membuahkan kebahagiaan materi atau balasan langsung di dunia. Dunia ini terlalu sempit dan murah untuk dijadikan hadiah bagi orang-orang mumin yang saleh. Balasan sejati hanya pantas diberikan di surga-Nya yang abadi.



Hikmah 82: Balasan yang Disegerakan:


وُجُودُ الْجَزَاءِ فِي هَذِهِ الدَّارِ مِمَّا عَمِلُوا فِيهَا، دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ قَبُولِهِ فِي الْآخِرَةِ.

Artinya:
Adanya balasan spontan (berupa pujian manusia atau keuntungan materi) di dunia ini atas amal yang dilakukan, merupakan tanda bahwa amal tersebut tidak akan diterima di akhirat kelak.
Syarah Singkat:
Hikmah ini menjadi pengingat keras agar kita menjauhi sifat riya (ingin dipuji) atau beramal saleh demi motif duniawi. Jika seseorang beribadah demi mengejar sanjungan atau keuntungan dunia semata, maka ia telah menerima jatahnya di dunia dan tidak mendapatkan apa-apa di akhirat.



Hikmah 83: Cahaya Kalbu Ahli Hikmah:

إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ، خَلَقَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ.

Artinya:
Apabila Allah ingin menampakkan karunia-Nya kepadamu, Dia menciptakan amal kebaikan itu (di dalam dirimu) lalu menyandarkan (menyebut) amal itu sebagai milikmu.
Syarah Singkat:
Hakikatnya, kekuatan untuk berbuat baik, salat, bersedekah, dan menjauhi maksiat berasal dari Allah semata. Namun karena kasih sayang-Nya, Allah memuji dan membalas kita seolah-olah amalan itu murni lahir dari kehebatan diri kita sendiri.

Hikmah 84: Mengetahui Kedudukan di Sisi Allah:


اِذاَ اَردتَ اَنْ تَعْرِفَ قدرَكَ عِندهُ فاَنْظُرْ ماَذاَ يُقِيمكَ فيهِ
Artinya:
Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah di dalam hal apa Dia menempatkanmu.
Syarah Singkat:
Para 'ulama sufi membagi hikmah ini ke dalam dua sudut pandang:
1. Golongan 'Awam:
Jika Allah menempatkanmu dalam keseharian yang gemar beribadah, konsisten dalam keta'atan, menjaga syari'at, serta berbuat baik pada sesama, itu tanda engkau memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya. Sebaliknya, jika hari-harimu dihabiskan dalam kelalaian dan maksiat, itu indikasi runtuhnya kedudukanmu di mata Allah.
2. Golongan Khash (Khusus):
Lihatlah bagaimana kedudukan Allah di dalam hatimu. Sejauh mana engkau mengagungkan, mengingat, dan mengutamakan ridha Allah di atas segalanya, sejauh itulah kedudukanmu di hadapan-Nya.



Hikmah 85: Hikmah Keanekaragaman 'Amal 'Ibadah:


تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الأَحْوَالِ
Artinya:
Beraneka ragamnya jenis 'amal perbuatan itu disebabkan karena beraneka ragamnya waridat (kondisi spiritual/cahaya batin) yang masuk ke dalam hati.
Syarah Singkat:
Allah SWT. tidak menciptakan 'ibadah hanya dalam satu bentuk. Ada kalanya seseorang digerakkan untuk shalat sunnah, di waktu lain ia condong pada dzikir, puasa, membaca Al-Quran, atau menolong orang lain.Perbedaan 'amal lahiriah ini dikontrol oleh waridat (cahaya ilahi atau getaran batin) yang sedang mendominasi hati. Allah menonjolkan variasi ini agar hamba-Nya tidak dihinggapi rasa bosan (malal) dalam menghamba kepada-Nya.



Hikmah 86: Shalat sebagai Sarana Munajat dan Pembersih Hati:


الصَّلَاةُ طُهْرَةٌ لِلْقُلُوبِ مِنْ أَدْنَاسِ الذُّنُوبِ، وَاسْتِفْتَاحٌ لِبَابِ الْغُيُوبِ
Artinya:
Shalat adalah pembersih bagi hati dari kotoran-kotoran dosa, sekaligus sarana pembuka bagi pintu-pintu ghaib (rahasia ketuhanan).
Syarah Singkat:
Shalat bukan sekadar gerakan fisik menggugurkan kewajiban. Secara spiritual, shalat yang dilakukan dengan khusyu' bertindak sebagai media penyucian batin hamba dari noda hitam ma'shiat dan keterikatan duniawi. Ketika hati sudah bersih melalui shalat, Allah akan membukakan dinding-dinding pembatas (hijab) batin sehingga hamba dapat merasakan kedekatan, ma'rifat, dan rahasia-rahasia ketuhanan yang agung.



Hikmah 87: Shalat adalah Tempat Bermunajat


الصَّلَاةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الأَسْرَارِ، وَتَشْرَقُ فِيهَا لَوَامِعُ الأَنْوَارِ
Artinya:
Shalat adalah tempat untuk bermunajat (berbisik mesra dengan Allah) dan sumber menjernihkan hati. Di dalamnya terbentang luas medan rahasia-rahasia batin, dan memancar pula cahaya-cahaya ma'rifat.
Syarah Singkat:
Sa'at seorang hamba mengucapkan "Allahu-Akbar", ia sedang membelakangi dunia dan menghadap langsung kepada Penguasa Semesta. Shalat menjadi waktu paling intim di mana hamba mengadukan segala hal secara langsung kepada Allah. Di momen-momen inilah Allah mengaruniakan kedamaian batin, memancarkan cahaya ma'rifat, dan meluaskan ruang spiritual dalam dada manusia.



Hikmah 88: Allah Mengetahui Kelemahan Manusia dalam Shalat:


عَلِمَ وُجُودَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا، وَعَلِمَ حَاجَتَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ أَمْدَادَهَا
Artinya:
Allah mengetahui adanya sifat lemah dalam dirimu, maka Dia sedikitkan jumlah bilangan shalat (menjadi 5 waktu). Dan Dia mengetahui betapa butuhnya engkau kepada karunia-Nya, maka Dia melipatgandakan pahala dan bantuannya.
Syarah Singkat:
Hikmah ini merujuk pada peristiwa Isra-Mi'raj. Allah pada awalnya mewajibkan shalat 50 waktu, namun karena rahmat dan pengetahuan-Nya terhadap kelemahan fisik serta fokus manusia, jumlahnya dipersingkat menjadi 5 waktu saja dalam sehari semalam. Kendati jumlah fisiknya sedikit (5 kali), nilai pahala, pasokan energi spiritual, dan karunia yang mengalir di dalamnya tetap setara dengan 50 waktu shalat.



Hikmah 89: Permintaan Orang yang 'Arif-Billah:


مَطْلَبُ الْعَارِفِينَ مِنَ اللهِ تَعَالَى: الصِّدْقُ فِي الْعُبُودِيَّةِ، وَالْقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ
Artinya:
Permintaan orang-orang yang telah ma'rifat ('arif-billah) kepada Allah Ta'ala hanyalah "Ketulusan/kesungguhan dalam menghamba ('ubudiyah) dan teguh menunaikan hak-hak ketuhanan (rububiyah)".
Syarah Singkat:
Seorang 'Arif-Billah (orang yang mengenal Allah dengan mendalam) tidak lagi menyembah Allah karena didorong oleh pamrih duniawi atau sekadar mengincar pahala surga. Permintaan terbesar mereka dalam do'a bukanlah materi, melainkan meminta agar hati mereka diberikan kekuatan untuk bersikap jujur (shidqun), tulus, serta istiqamah dalam memosisikan diri sebagai hamba yang ta'at dan tahu adab di hadapan Tuhannya.



Hikmah 90: 'Amal Diterima Hanya karena Tirai Kasih Sayang Allah:


لَوْلَا جَمِيلُ سِتْرِهِ لَمَا كَانَ عَمَلٌ أَهْلًا لِلْقَبُولِ
Artinya:
Andaikata bukan karena kebaikan tirai penutup (satr) dari-Nya, niscaya tidak akan ada 'amal perbuatan yang layak untuk diterima.
Syarah Singkat:
Manusia sering kali merasa bangga dengan 'amal 'ibadahnya. Padahal, jika dibongkar, di dalam amal kita sering terselip rasa riya, ingin dipuji, tidak ikhlas, atau pikiran yang melayang ke mana-mana sa'at shalat. Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa 'amal kita bisa dianggap sah dan diterima oleh Allah semata-mata karena Allah Yang Maha Baik memilih untuk menutupi segala kekurangan, cacat, dan kebusukan niat batin kita. Kita diterima bukan karena kehebatan amal kita, melainkan karena kemurahan dan fadhal (karunia) dari Allah semata.

Hikmah 91: Kebutuhan akan Ampunan sa'at Tha'at:



أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا عَصَيْتَهُ

Artinya:
Engkau lebih membutuhkan sifat santun (pengampunan) Allah ketika engkau ta'at kepada-Nya, melebihi kebutuhanmu sa'at engkau berma'shiat kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Ketika seseorang berma'shiat, ia biasanya merasa hina, berdosa, dan hancur hatinya, sehingga ia langsung bersandar pada rahmat Allah. Sebaliknya, ketika seseorang berhasil melakukan keta'atan, ia rawan terkena penyakit hati yang samar seperti 'ujub (bangga diri), merasa suci, atau merendahkan orang lain. Oleh karena itu, seseorang jauh lebih membutuhkan hilm (kemurahan dan sifat santun Allah) sa'at ta'at agar 'ibadahnya tidak berbalik menjadi bumerang dosa besar di hatinya.



Hikmah 92: Dua Jenis Tirai (Satar) Allah:



الـسَّتْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ : سَتْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ ، وَسَتْرٌ فِيْهَا. فَالْعَامَّةُ يَطْلُبُوْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى السَّتْرَ فِيْهَا خَشْيَةَ سُقُوْطِ مَرْتَبَتِهِمْ عِنْدَ الْخَلْقِ ، وَالْخَاصَّةُ يَطْلُبُوْنَ مِنَ اللهِ السَّتْرَ عَنْهَا خَشْيَةَ سُقُوْطِهِمْ مِنْ نَظَرِ الْمَلِكِ الْحَقِّ

Artinya:
Tirai penutup (dari Allah) itu ada dua macam tirai penutup dari kema'shiatan (dijaga agar tidak ma'shiat) dan tirai penutup di dalam kema'shiatan (ma'shiatnya disembunyikan dari orang lain). Orang 'awam meminta kepada Allah agar ma'shiatnya ditutupi karena takut jatuh martabatnya di mata makhluk. Sedangkan orang-orang khusus (khawash) meminta agar dijaga dari berbuat ma'shiat karena takut jatuh kedudukannya di hadapan pandangan Allah Yang Maha Benar.
Syarah Singkat:
Hikmah ini membedakan maqam (tingkatan) seorang hamba:
1. Kaum 'Awam: Fokus mereka adalah pandangan manusia. Mereka meminta agar aib dan dosa mereka tidak ketahuan makhluk demi menjaga gengsi duniawi.
2. Kaum Khawash: Fokus mereka murni pandangan Allah. Mereka tidak sudi berma'shiat sejak awal karena takut terhijab atau terputus hubungan spiritual dengan Allah SWT.



Hikmah 93: Hakikat Pemberian dan Penolakan:



رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ ، وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ

Artinya:
Kerap kali Allah memberimu (sesuatu yang bersifat duniawi) namun hakikatnya Dia sedang menolakmu (dari rahmat batin). Dan kerap kali Allah menolak (keinginanmu) namun hakikatnya Dia sedang memberimu.
Syarah Singkat:
Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Terkadang do'a kita dikabulkan berupa kekayaan atau jabatan duniawi, namun hal itu justru membuat kita lalai, sombong, dan menjauh dari-Nya (ini adalah penolakan halus/istidraj). Sebaliknya, ketika Allah menolak permohonan duniawi kita, batin kita menjadi remuk redam, kita menangis dalam doa, dan menjadi dekat dengan-Nya; penolakan duniawi ini pada hakikatnya adalah pemberian spiritual yang teramat agung.



Hikmah 94: Memahami Rahasia Penolakan:



مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ ، عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ


Artinya:
Kapan pun Allah membukakan pintu pemahaman bagimu di balik penolakan-Nya, maka penolakan itu seketika berubah menjadi sebuah pemberian yang nyata.
Syarah Singkat:
Siksaan terbesar dari sebuah musibah atau penolakan doa adalah ketika kita tidak paham mengapa Allah melakukannya. Namun, jika Allah menganugerahkan ma'rifat sehingga mata hati kita melihat hikmah, perlindungan, atau kasih sayang Allah di balik kegagalan tersebut, maka rasa perih itu akan hilang dan hamba tersebut akan bersyukur karena menyadari bahwa penolakan Allah adalah bentuk kasih sayang-Nya yang sedang menyelamatkannya.



Hikmah 95: Alam Lahiriah dan Kebatinan:



الْأَكْوَانُ ظَاهِرُهَا غِرَّةٌ ، وَبَاطِنُهَا عِبْرَةٌ. فَالنَّفْسُ تَنْظُرُ إِلَى ظَاهِرِ غِرَّتِهَا ، وَالْقَلْبُ يَنْظُرُ إِلَى بَاطِنِ عِبْرَتِهَا
Artinya:
Segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini (alkon), lahiriahnya adalah tipuan, sedangkan batiniahnya adalah pelajaran ('ibrah). Nafsu hanyalah memandang kepada lahiriahnya yang menipu, sedangkan mata hati (qalbu) memandang kepada batiniahnya yang penuh pelajaran.
Syarah Singkat:
Dunia ini penuh dengan keindahan tiruan. Hawa nafsu manusia sangat mudah terpesona oleh gemerlap kemewahan, harta, dan takhta karena hanya melihat kulit luarnya saja. Namun, orang yang berakal sehat dan memiliki kebersihan hati akan melihat esensi dari dunia, yaitu semuanya akan fana, rusak, dan dimintai pertanggung jawaban. Mereka menjadikan dunia hanya sebagai jembatan, bukan tujuan.



Hikmah 96: Cahaya yang Menuntut dan Cahaya yang Menyampaikan:



إِنَّمَا جَعَلَ النُّوْرَ فِي الْقَلْبِ لِيُشَاهَدَ بِهِ الْمَلَكُوْتُ ، وَإِنَّمَا جَعَلَ النُّوْرَ فِي الظَّاهِرِ لِيُشَاهَدَ بِهِ الْمُلْكُ
Artinya:
Sesungguhnya Allah menjadikan cahaya di dalam hati agar hamba dapat menyaksikan alam malakut (rahasia ketuhanan/gaib). Dan Dia menjadikan cahaya pada panca indra lahiriah agar hamba dapat melihat alam almulk (dunia materi).
Syarah Singkat:
Manusia dibekali dua jenis alat pandang:
1. Mata Lahir:
Membutuhkan cahaya matahari atau lampu untuk melihat benda-benda fisik (alam almulk).
2. Mata Batin (Bashirah):
Membutuhkan cahaya iman, takwa, dan ma'rifat dari Allah (nurul yaqin) untuk bisa merasakan kehadiran Allah, memahami takdir, dan melihat keagungan alam malakut.



Hikmah 97: Pujian Makhluk yang Menipu:



أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِيْنَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ
Artinya:
Manusia yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang dia yakini ada pada dirinya sendiri (yaitu kekurangan dan dosanya) demi mengejar apa yang diduga oleh orang lain tentang dirinya (berupa pujian dan kesucian). Syarah Singkat:
Kita adalah orang yang paling tahu tentang betapa banyaknya aib, kelemahan, dan dosa tersembunyi yang kita miliki. Namun, ketika orang lain memuji kita karena mereka hanya melihat cover luar kita, sangat bodoh jika kita ikut merasa bangga dan melupakan kenyataan dosa-dosa kita sendiri. Jangan sampai pujian makhluk menipu kita dari kenyataan bahwa kita sangat butuh beristighfar dan memperbaiki diri di hadapan Allah SWT.

Hikmah 98: Hakikat Rasa Sepi dari Makhluk:

مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الأُنْسِ بِهِ.
Artinya:
Ketika Allah membuatmu merasa asing/sepi dari makhluk-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia sebenarnya ingin membukakan pintu kemesraan (kedekatan) dengan-Nya.
Syarah Singkat:
Seringkali kita dikecewakan, dijauhi, atau merasa tidak nyaman berinteraksi dengan sesama manusia. Jangan berkecil hati. Itu adalah cara halus dari Allah untuk membersihkan hati kita agar tidak bergantung kepada mahluk, dan mengarahkan seluruh kerinduan serta kedekatan kita hanya kepada-Nya.



Hikmah 99: Kesegeraan Balasan Allah:


جَلَّ رَبُّنَا أَنْ يُعَامِلَهُ الْعَبْدُ نَقْدًا فَيُجَازِيَهُ نَسِيئَةً.
Artinya:
Maha Agung Tuhan kita, tidak mungkin seorang hamba beramal kepada-Nya secara tunai (di dunia), lalu Dia membalasnya secara tempo (nanti saja di akhirat).
Syarah Singkat:
Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Ketika Anda beribadah dengan tulus sa'at ini juga, Allah tidak menunda balasan-Nya murni hanya nanti di akhirat. Detik ketika Anda ta'at, Allah langsung memberikan balasan tunai di dunia berupa ketenangan hati, kelapangan dada, dan kelezatan iman sa'at ber'ibadah.



Hikmah 100: Cukupnya Taufik Sebagai Balasan:


كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلاً.
Artinya:
Cukuplah sebagai balasan Allah kepadamu atas keta'atanmu, yaitu fakta bahwa Dia telah ridha memilihmu menjadi ahli keta'atan.
Syarah Singkat:
Seseorang tidak perlu menuntut pahala atau keajaiban duniawi setelah beribadah. Bisa menggerakkan tubuh untuk sujud, shalat, atau berdzikir di sa'at orang lain lalai, itu sendiri sudah merupakan anugerah dan bentuk balasan terbesar dari Allah yang menunjukkan bahwa Anda sedang diperhatikan oleh-Nya.



Hikmah 101: Balasan Berupa Ketenangan dan Kedekatan Hati:


كَفَى الْعَامِلِينَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فِي طَاعَتِهِ، وَمَا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُودِ مُؤَانَسَتِهِ.
Artinya:
Cukuplah bagi orang-orang yang ber'amal itu mendapatkan balasan berupa apa yang Allah bukakan di dalam hati mereka sa'at ta'at, serta rasa kemesraan (ketenteraman bathin) yang Allah limpahkan kepada mereka.
Syarah Singkat:
Kelanjutan dari hikmah sebelumnya. Balasan langsung (tunai) yang dirasakan oleh orang yang ikhlas sa'at ber'ibadah adalah dibukanya tirai hati (kasyaf/ma'rifat), hilangnya kegundahan, serta lahirnya rasa bahagia dan tenang karena merasa selalu ditemani oleh Allah (munsiyyah).



Hikmah 102: Menyembah Allah Karena Hak Asma-Nya, Bukan Pamrih:


مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ، أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ، فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ.
Artinya:
Barangsiapa menyembah Allah karena mengharapkan sesuatu imbalan, atau untuk menolak siksaan melalui keta'atannya, maka ia belum memenuhi hak dari sifat-sifat Allah (sebagai Tuhan).
Syarah Singkat:
Ini adalah teguran bagi level spiritual yang masih "bertransaksi" dengan Tuhan. Orang 'arif menyembah Allah bukan sekadar karena takut neraka atau tamak surga, melainkan karena sadar diri bahwa dirinya adalah hamba dan Allah adalah Tuhan yang memang satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah.



Hikmah 103: Memahami Memberi dan Menolak (Al-A'tha, wal-Man'u):


مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.
Artinya:
Ketika Allah memberi kepadamu, Dia memperlihatkan kepadamu kebaikan-Nya. Dan ketika Dia menolak (do'a/keinginan)-mu, Dia memperlihatkan kepadamu kekuasaan-Nya. Dalam kedua kondisi itu, Dia sebenarnya sedang memperkenalkan diri-Nya kepadamu dan mendekatimu dengan kelembutan-Nya.
Syarah Singkat:
Sa'at keinginan kita dikabulkan, kita mengenal Allah Yang Maha Memberi. Sa'at do'a kita belum dikabulkan, kita belajar mengenal keagungan-Nya bahwa segala sesuatu berjalan atas kehendak-Nya, bukan nafsu kita. Di balik penolakan tersebut, tersimpan kelembutan Allah yang menjaga kita dari hal buruk.



Hikmah 104: Pedihnya Penolakan Karena Belum Paham:


إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيهِ.
Artinya:
Sesungguhnya rasa sakit yang kau rasakan akibat penolakan (tidak dikabulkannya keinginan) itu hanyalah karena engkau belum memahami maksud Allah di balik penolakan tersebut.
Syarah Singkat:
Manusia sering merasa sedih atau kecewa sa:at usahanya gagal atau do'anya tak kunjung terwujud. Padahal, jika manusia bisa melihat rahasia takdir, penolakan dari Allah seringkali justru merupakan "pemberian yang sejati" demi menyelamatkan sang hamba dari bahaya yang tidak ia ketahui.


Hikmah 105: Rahasia Kepedihan akibat Penolakan:


اِنَّمَا يُؤْلِمُكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيهِ
Artinya:
Sesungguhnya rasa sakit/pedih akibat penolakan (tidak dikabulkannya keinginanmu) itu terjadi karena engkau tidak memahami hikmah Allah di balik penolakan tersebut.
Syarah Singkat:
Manusia sering merasa kecewa sa'at do'anya belum dikabulkan atau keinginannya ditolak. Rasa sakit itu muncul karena kedangkalan cara pandang kita. Jika kita memahami bahwa Allah menolak sesuatu demi menjaga kita dari bahaya atau karena Dia menyiapkan sesuatu yang lebih baik, maka penolakan itu justru akan terasa sebagai bentuk kasih sayang (rahmat)-Nya.



Hikmah 106: Penolakan yang Hakikatnya adalah Pemberian:



مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الفَهْمِ فِي المَنْعِ، عَادَ المَنْعُ عَيْنَ العَطَاءِ
Artinya:
Ketika Allah membukakan pintu pemahaman bagimu di balik penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu menjadi sebuah pemberian yang nyata.
Syarah Singkat:
Pemberian tidak selalu berupa terwujudnya materi atau keinginan nafsu. Ketika kita bisa melihat hikmah, perlindungan, dan keselamatan yang ada di balik sebuah kegagalan, kita akan sadar bahwa "tidak diberi oleh Allah" sering kali adalah hadiah terbesar agar kita tidak tersesat atau celaka.



Hikmah 107: Alam Semesta Lahiriah dan Bathiniah:



الْكَوْنُ بِتَصْوِيرِهِ كَثَائِفُ، وَبِشُهُودِ مَعَانِيهِ لَطَائِفُ
Artinya:
Alam semesta ini jika dilihat dari bentuk fisiknya adalah sesuatu yang padat/gelap, namun jika dipandang dari sudut kesaksian maknanya, ia adalah sesuatu yang halus/lembut.
Syarah Singkat:
Orang yang awam hanya melihat dunia ini sebatas materi, benda mati, makhluk, dan hukum sebab-akibat yang kaku. Namun bagi seorang 'arif (orang yang mengenal Allah), setiap cengkal alam semesta ini adalah cermin yang memantulkan keagungan, keindahan, dan sifat-sifat Allah (tanda kekuasaan-Nya).



Hikmah 108: Menuntut Balasan atas Amal 'Ibadah:



لَا تَطْلُبْ مِنْهُ جَزَاءً عَلَى عَمَلٍ لَمْ تَكُنْ أَنْتَ فَاعِلَهُ، يَكْفِيكَ مِنَ الْجَزَاءِ لَهُ أَنْ كَانَ لَهُ قَابِلًا
Artinya:
Janganlah engkau menuntut balasan atas suatu 'amal 'ibadah yang hakikatnya bukan engkau pelakunya. Cukuplah menjadi balasan yang besar bagimu, di mana Dia berkenan menerima amal tersebut.
Syarah Singkat:
Kekuatan, kesehatan, dan hidayah untuk bisa menggerakkan tubuh dalam beribadah semuanya berasal dari Allah. Oleh karena itu, merasa bahwa kita "berhak" atas pahala yang besar karena 'amal kita adalah bentuk kesombongan rohani. Karunia terbesar adalah sa'at 'amal kita yang penuh kekurangan ini masih sudi diterima oleh-Nya.



Hikmah 109: Bukti Keagungan Allah pada Orang yang Beramal:



إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ، خَلَقَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ
Artinya:
Apabila Allah hendak menampakkan karunia-Nya kepadamu, Dia menciptakan 'amal tersebut (di dalam dirimu) lalu menyandarkan (sebutan) amal itu kepadamu.
Syarah Singkat:
Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Allah yang menggerakkan hati kita untuk bersedekah atau shalat malam, namun Allah pula yang memuji kita dengan sebutan "orang yang dermawan" atau "ahli ibadah". Hakikatnya, Allah sedang memuji ciptaan-Nya sendiri di dalam dirimu.



Hikmah 110: Tanda Mengikuti Hawa Nafsu dalam 'Ibadah:



مِنْ عَلَامَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى، الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ، وَالتَّكَاسُلُ عَنْ أَدَاءِ الْوَاجِبَاتِ
Artinya:
Di antara tanda-tanda seseorang mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan amalan-amalan sunnah, namun malas dalam menunaikan kewajiban-kewajiban fardhu.
Syarah Singkat:
Banyak orang terjebak merasa dirinya saleh karena rajin melakukan ibadah sunnah yang terlihat mentereng atau dipuji orang (seperti 'umrah berkali-kali atau sedekah besar yang viral), namun di sa'at yang sama mengabaikan kewajiban pokok seperti Hajji, membayar utang, berbakti pada orang tua, atau menjaga amanah pekerjaan. 'Ibadah wajib harus selalu didahulukan daripada yang sunnah.



Hikmah 111: Pentingnya Wirid ('Amalan Rutin):



لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ يَقْظَةٍ
Artinya:
Janganlah engkau meninggalkan dzikir hanya karena hatimu belum bisa hadir (khusyu') bersama Allah di dalamnya. Karena bisa jadi Allah akan mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju dzikir yang disertai kesadaran (ingat).
Syarah Singkat:
Jangan pernah berhenti beribadah atau berdzikir dengan alasan "saya belum ikhlas" atau "hati saya masih ke mana-mana". Dzikir yang dilakukan lisan meskipun hati lalai masih jauh lebih baik daripada lisan yang diam dan hati yang kosong. Berproseslah secara bertahap dari dzikir lisan menuju khusyu'nya hati.


Hikmah ke-112: Menghadapi Limpahan Ni'mat:



لَا تُدْهِشُكَ وَارِدَاتُ النِّعَمِ عَنِ الْقِيَامِ بِحُقُوْقِ شُكْرِكَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يَحُطُّ مِنْ وُجُوْدِ قَدْرِكَ.
Artinya:
Jangan sampai limpahan nikmat membuatmu bingung (lalai) dalam menunaikan kewajiban bersyukur. Sebab, sikap yang demikian itu akan menurunkan derajatmu.
Syarah Ringkas:
Sa'at Allah mendatangkan ni'mat yang bertubi-tubi (baik harta, kesehatan, maupun kedudukan), seorang hamba sering kali terpukau atau sibuk menikmati kelezatannya sehingga lupa untuk bersyukur. Ketidakmampuan mengelola rasa syukur di tengah banjirnya nikmat justru mencerminkan kerendahan kedudukan spiritual seseorang di hadapan Allah. Syukur yang sesungguhnya adalah menggunakan ni'mat tersebut untuk ketha'atan.



Hikmah ke-113: Bahaya Manisnya Hawa Nafsu:




تَمَكُّنُ حَلَاوَةِ الْهَوَى مِنَ الْقَلْبِ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ.
Artinya:
Merasuknya manisnya hawa nafsu ke dalam hati adalah penyakit kronis yang sangat sulit disembuhkan.
Syarah Ringkas:
Ketika seseorang sudah merasa "lezat" dan nyaman dengan kema'siatan, keterikatan duniawi, atau sifat-sifat tercela (seperti kesombongan dan gila pujian), maka hal itu menjadi penyakit akut (ad-Daaul-'udhal). Penyakit ini membuat hati buta terhadap kebenaran dan menutup jalannya cahaya iman untuk masuk secara sempurna.



Hikmah ke-114: Cara Mengusir Syahwat:



لَا يُخْرِجُ الشَّهْوَةَ مِنَ الْقَلْبِ إِلَّا خَوْفٌ مُزْعِجٌ أَوْ شَوْقٌ مُقْلِقٌ.
Artinya:
Tidak ada yang bisa mengusir syahwat dari dalam hati kecuali rasa takut yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan.
Syarah Ringkas:
Karena manisnya nafsu pada hikmah 113 adalah penyakit yang sangat berat, obatnya pun harus kuat. Syekh Ibnu 'Athaillah memberikan dua penawar:
1. Khaufun-Muz'ij:
Rasa takut yang sangat kepada siksa dan ancaman Allah (melalui tadabbur ancaman Al-Quran dan pengingat kematian) sehingga mencabut kelezatan ma'shiat dari hati.
2. Syauqun-Muqliq:
Rasa rindu yang mendalam kepada Allah dan surga-Nya, yang membuat dunia dan syahwatnya terasa tidak ada artinya lagi.



Hikmah ke-115: Kelalaian Hamba terhadap Kebaikan Allah:


لَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الْعِبَادَ لَا يَطْلُبُوْنَ لِلثَّوَابِ، أَقَامَهُمْ عَلَى الطَّاعَاتِ بِوُجُوْدِ الِاقْتِرَابِ.
Catatan versi matan lain:
"لَمَّا عَلِمَ اللهُ مِنْكَ قِلَّةَ النَّهْضَةِ إِلَيْهِ..."
Artinya:
Ketika Allah Yang Maha Suci mengetahui bahwa para hamba-Nya malas untuk beribadah jika hanya sekadar mencari pahala, maka Dia menggerakkan mereka untuk ta'at melalui rasa kedekatan (ma'rifat dan rasa cinta) kepada-Nya.
Syarah Ringkas:
Allah Maha Tahu thabi'at manusia yang lemah. Jika 'ibadah hanya didasari oleh hitung-hitungan pahala kering, manusia sering kali enggan memulainya atau ber'ibadah dengan terpaksa. Oleh karena itu, Allah menanamkan rasa rindu, taufik-Nya, dan manisnya kedekatan di dalam hati orang-orang beriman agar mereka beribadah atas dasar cinta dan rasa butuh yang mendalam kepada-Nya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.




Hikmah ke-116: Hak-Hak Waktu yang Tidak Bisa Diganti:



حُقُوْقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوْقُ الْأَوْقَاتِ لَا يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا؛ إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلَّا وَلِلّٰهِ عَلَيْكَ فِيْهِ حَقٌّ جَدِيْدٌ وَأَمْرٌ أَكِيْدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيْهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللّٰهِ فِيْهِ؟
Artinya:
Hak-hak yang berada di dalam waktu (seperti shalat atau puasa) masih mungkin untuk di-qadha (diganti). Namun, hak dari waktu itu sendiri tidak akan pernah bisa di-qadha. Sebab, tidak ada satu waktu pun yang datang kecuali Allah memiliki hak baru dan perintah yang pasti di dalamnya. Maka bagaimana mungkin kamu bisa mengganti hak waktu yang lalu di waktu yang sekarang, padahal kamu belum tentu bisa menunaikan hak Allah pada waktu yang sedang berjalan sekarang ini?
Syarah Ringkas:
Kewajiban fikih yang terlewat (seperti shalat) mungkin bisa di-qadha secara lahiriah. Namun, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Setiap detik kehidupan menuntut respons spiritual yang instan. jika diberi ni'mat wajib bersyukur, jika diberi musibah wajib bersabar, jika ta'at wajib melihatnya sebagai karunia Allah, dan jika bermaksiat wajib segera bertaubat. Menunda-nunda amal kebaikan dengan alasan "nanti bisa diganti" adalah kerugian spiritual yang nyata.


Hikmah ke-117: Nilai Waktu dan Usia:



مَا فَاتَ مِنْ عُمُرِكَ لا عِوَضَ لَهُ ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لا قِيْمَةَ لَهُ .
Artinya:
Apa yang telah luput dari usiamu tidak akan ada penggantinya, dan waktu yang berhasil engkau raih dari usiamu (untuk taat kepada Allah) tidak ada tandingan nilai harganya.
Syarah singkat:
Waktu yang telah lalu tidak akan pernah kembali. Setiap detik dalam hidup adalah modal berharga. Jika digunakan untuk lalai, ia menjadi kerugian abadi. Namun, jika waktu tersebut diisi dengan berdzikir atau mendekatkan diri kepada Allah, nilainya menjadi tak terhingga karena membuahkan kebahagiaan akhirat yang kekal.



Hikmah ke-118: Bahaya Menjadi Budak Dunia:



مَا أَحْبَبْتَ شَيْئاً إلا كُنْتَ لَهُ عَبْداً ، وَهُوَ لا يحِبُّ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِهِ عَبْداً .
Artinya:
Tidaklah engkau mencintai sesuatu melainkan engkau akan menjadi hamba (budak) dari apa yang engkau cintai itu, padahal Allah tidak suka jika engkau menjadi hamba bagi selain-Nya.
Syarah singkat:
Hati manusia diciptakan murni untuk bertauhid. Ketika seseorang terlalu mencintai dunia, harta, atau jabatan, hatinya akan disetir oleh hal tersebut (menjadi budaknya). Allah Maha Pencemburu (Ghayur) dan menghendaki agar hamba-Nya merdeka dari belenggu makhluk serta tunduk hanya kepada-Nya semata.



Hikmah ke-119: Hakikat Perintah dan Larangan Allah:



لا تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلا تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهَذَه وَنَهَاكَ عَنْ هَذَه لِمَا يَعُودُ إِلَيْكَ .
Artinya:
Ketaatanmu tidak memberi manfa'at bagi-Nya dan ma'shiatmu tidak memberi kemudaratan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia memerintahkanmu ini (keta'atan) dan melarangmu itu (ma'shiat) semata-mata demi kebaikan yang kembali kepadamu sendiri.
Syarah singkat:
Allah Maha Kaya (Al-Ghani). Ibadah seluruh makhluk tidak menambah keagungan-Nya, dan ma'shiat sedunia tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Syari'at diturunkan murni sebagai bentuk kasih sayang dan anugerah agar manusia hidup selamat, bersih hati, dan bahagia di dunia maupun akhirat.



Hikmah ke-120: Kemuliaan Allah yang Bersifat Qadim:



لا يَزِيدُ فِي عِزِّهِ إِقْبَالُ مَنْ أَقْبَلَ عَلَيْهِ ، وَلا يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إِدْبَارُ مَنْ أَدْبَرَ عَنْهُ .
Artinya:
Tidak akan pernah menambah kemuliaan-Nya karena menghadapnya orang yang menghadap (ta'at) kepada-Nya, dan tidak akan pernah mengurangi kemuliaan-Nya karena berpalingnya orang yang berpaling (durhaka) dari-Nya.
Syarah singkat:
Hikmah ini menyempurnakan pasal sebelumnya. Keagungan Allah bersifat muthlak dan qadim (tanpa permulaan), tidak terpengaruh oleh aksi atau reaksi makhluk-Nya. Manusia lah yang sangat butuh bersandar kepada kemuliaan Allah agar ikut mulia.



Hikmah ke-121: Hakikat Ni'mat dan Siksa:



وُصُولُكَ إِلَى اللهِ وُصُولُكَ إِلَى العِلْمِ بِهِ، وَإِلاَّ فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ أَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ.
Artinya:
Sampaimu (wushul) kepada Allah adalah sampaimu kepada ilmu (ma'rifat) tentang-Nya. Jika tidak demikian, maka Maha Suci Tuhan kita dari bersambungnya sesuatu dengan-Nya atau bersambungnya Dia dengan sesuatu.
Syarah singkat:
Istilah wushul (sampai kepada Allah) dalam dunia tasawwuf bukan berarti bertemunya fisik atau bertempatnya Allah pada makhluk (karena Allah Maha Suci dari sifat benda). Wushul yang sejati adalah terbukanya mata hati (ma'rifat) untuk menyaksikan keagungan Allah sehingga hilangnya hijab kelalaian dalam jiwa.



Hikmah ke-122: Karunia Rezeki yang Sempurna:



قُرْبُكَ مِنْهُ أَنْ تَكُونَ شَاهِداً لِقُرْبِهِ، وَإِلاَّ فَمِنْ أَيْنَ أَنْتَ وَوُجُودُ قُرْبِهِ؟
Artinya:
Kedekatanmu dengan Allah adalah dengan cara engkau menyaksikan kedekatan-Nya. Jika tidak demikian, akan kemana engkau sehingga bisa mendekat kepada wujud kedekatan-Nya?
Dalam hikmah ini, untuk mendekatkan (Taqarrub) diri kepada Allah harus dengan bukti keikhlasan. Seandainya bukan dengan bukti keikhlasan, lalu dengan apalagi. Padahal jelas Allah-lah yang selalu dekat mengawasi.
Syarah singkat:
Hakikat kedekatan kita kepada Allah didasari atas kesadaran penuh bahwa Allah-lah yang selalu dekat mengawasi dan meliputi diri kita terlebih dahulu (Muhasabah).



Hikmah ke-123: Mengurangi Kesedihan Dunia:


مَا تَزَيَّنَتِ الْعَوَالِمُ بِمِثْلِ شُهُودِهِ، وَلَا تَأَلَّمَتْ بِمِثْلِ حِجَابِهِ.
Artinya:
Tidak ada hiasan alam semesta yang seindah menyaksikan-Nya, dan tidak ada kepedihan yang menyiksa alam semesta melebihi kepedihan terhijab (terhalang) dari-Nya.
(Catatan: Pada redaksi lain, hikmah 123 juga bermakna: Kurangilah kegembiraanmu pada hal-hal selain Allah, niscaya akan berkurang pula kesedihanmu sa'at kehilangan hal tersebut).
Syarah singkat:
Puncak kebahagiaan seorang salik (pejalan spiritual) adalah sa'at hatinya dipenuhi cahaya Allah. Sebaliknya, siksaan bathin terbesar di dunia dan akhirat adalah sa'at hati tertutup oleh kecintaan duniawi sehingga terhalang dari merasakan kehadiran-Nya.


PEMBERITAHUAN JADWAL IMSAKIAH
WAKTU SHALAT
EDIT NAMA KOTA:



xtgem
Log in