Berikut (penjelasan ringkas) dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari Rahimahullahu Ta'ala. Aamiiin melanjutkan Hikmah ke-124 dst.: Hikmah 124: Perbedaan Antara Wirid dan Warid:
الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَشَتَّانَ بَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ وَمَا أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ.
Artinya:
Wirid adalah apa yang Allah tuntut darimu, sedangkan warid (karunia/cahaya batin) adalah apa yang kamu tuntut dari-Nya. Maka alangkah jauhnya perbedaan antara apa yang Dia tuntut darimu dengan apa yang kamu tuntut dari-Nya.
Syarah Singkat:
Hikmah ini mengajarkan adab dalam beribadah. Seorang hamba hendaknya lebih fokus melaksanakan tugasnya (wirid seperti shalat, dzikir, amal shaleh) demi menunaikan hak penghambaan kepada Allah, daripada sibuk menuntut atau mengharapkan rasa manisnya 'ibadah atau karunia spiritual (warid).
Hikmah 125: Jangan Remehkan Wirid:
لاَ يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلاَّ جَهُولٌ: الْوَارِدُ يُوجَدُ فِي الآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ الدُّنْيَا، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لاَ يَخْلُفُ تَعْوِيضُهُ.
Artinya:
Tidak ada yang meremehkan wirid kecuali orang yang sangat bodoh. Warid (buah dari amal) akan ada di akhirat kelak, sedangkan wirid akan lenyap dengan lenyapnya dunia. Dan perkara yang paling utama untuk diperhatikan adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan jika terlewat.
Syarah Singkat:
Wirid adalah ladang di dunia yang hanya bisa ditanam sekarang. Jika dunia berakhir, kesempatan beramal akan hilang selamanya. Oleh karena itu, jangan pernah meninggalkan wirid hanya karena merasa belum mendapatkan ketenangan bathin atau karunia spiritual (warid).
Hikmah 126: Wirid adalah Hak Allah:
الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَشَتَّانَ بَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ وَمَا أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ.
(Catatan: Sebagian manuskrip menggabungkan atau mengulang penegasan dari fasal sebelumnya untuk masuk ke bab kelapangan hati)
عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَنْتَظِرُونَ وُرُودَ الْوَارِدِ، فَشَرَعَ لَهُمْ وُجُودَ الْوِرْدِ.
Artinya:
Di ketahui bahwa sesungguhnya para hamba-Nya menanti-nanti datangnya warid (karunia), maka Dia menetapkan bagi mereka kewajiban wirid agar mereka senantiasa beramal."
Syarah Singkat:
Allah mengikat hamba-Nya dengan aturan 'ibadah yang konsisten agar nafsu manusia tidak malas. Melalui rutinitas wirid, itulah jalan menuju kebersihan hati dan turunnya warid terbuka lebar.
Hikmah 127: Warid untuk Hamba yang Istiqamah:
أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.
Artinya:
Allah mendatangkan warid (cahaya ilahi) kepadamu, semata-mata agar dengan warid itu kamu dapat datang dan mendekat kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Segala rasa khusyu', ketenangan, dan kelapangan hati sa'at ber'ibadah bukanlah tujuan akhir. Semua itu adalah fasilitas dan "kendaraan" yang Allah berikan agar kamu semakin bersemangat melangkah mendekatkan diri kepada-Nya, bukan untuk membuatmu kagum pada dirimu sendiri.
Hikmah 128: Warid Membebaskan dari Cengkeraman Makhluk:
أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيَتَسَلَّمَكَ مِنْ يَدِ الأَغْيَارِ، وَلِيُحَرِّرَكَ مِنْ رِقِّ الآثَارِ.
Artinya:
Allah mendatangkan warid kepadamu untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman selain-Nya (dunia/makhluk), dan untuk membebaskanmu dari perbudakan makhluk (Tangan-Tangan Penipu).
Syarah Singkat:
Ketika cahaya warid telah masuk ke dalam hati, seorang hamba akan melihat hakikat dunia yang fana. Efeknya, ia akan merdeka dari ketergantungan makhluk, tidak lagi takut kehilangan materi, dan tidak lagi menjadi budak pujian atau duniawi.
Hikmah 129: Hakikat Shalat sebagai Pembersih Hati:
الصَّلاَةُ طُهْرَةٌ لِلْقُلُوبِ مِنْ دَنَسِ الذُّنُوبِ، وَاسْتِفْتَاحٌ لِبَابِ الْغُيُوبِ.
Artinya: "Shalat adalah pembersih bagi hati dari kotoran dosa, dan sarana pembuka bagi pintu-pintu alam ghaib (rahasia ketuhanan).
Syarah Singkat:
Shalat yang didirikan dengan benar dan khusyu' bertindak sebagai penggugur noda-noda hitam di dalam hati akibat kelalaian duniawi. Ketika hati sudah bersih, Allah akan membukakan tirai pemahaman spiritual (ma'rifat) yang mendalam bagi hamba tersebut.
Hikmah 130: Shalat adalah Tempat Munajat:
الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ، وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الأَسْرَارِ، وَتَشْرُقُ فِيهَا شَوَارِقُ الأَنْوَارِ.
Artinya:
Shalat adalah tempat bermunajat (berbincang mesra dengan Allah) dan sumber kesucian batin. Di dalamnya, medan rahasia-rahasia ketuhanan menjadi luas dan cahaya-cahaya ma'rifat terbit dengan terangnya.
Syarah Singkat:
Shalat merupakan puncak kedekatan seorang hamba dengan Penciptanya. Sa:at bersujud dan membaca bacaan shalat, batasan-batasan duniawi seolah runtuh, menggantinya dengan pancaran ketenangan rohani yang tidak bisa didapatkan dari urusan duniawi mana pun.
Artinya:
Barangsiapa memujimu, sesungguhnya ia hanyalah memuji keindahan tirai penutup ('aib) yang Allah pasang padamu. Maka, segala kemuliaan adalah milik Dzat yang menutupi ('aibmu), bukan bagi orang yang bersyukur dan memujimu.
Syarah Singkat:
Manusia memuji kita karena mereka hanya melihat bagian luar yang tampak baik, sementara Allah sengaja menyembunyikan segala cacat, dosa, dan keburukan batin kita dari pandangan makhluk. Oleh karena itu, jika mendapat pujian, seorang hamba tidak boleh sombong ('ujub). Pujian tersebut pada hakikatnya kembali kepada Allah Yang Maha Menutup 'Aib (As-Sattar).
Hikmah 132: Hakikat Sahabat Sejati:
مَا صَحِبَكَ مَنْ صَحِبَكَ لِيَعُودَ إِلَيْكَ عَيْبُهُ، وَإِنَّمَا صَحِبَكَ مَنْ صَحِبَكَ لِيَعُودَ إِلَيْهِ خَيْرُكَ، وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا رَبُّكَ، فَالْكَرِيمُ مَنْ يَطْلُبُكَ لَا لِشَيْءٍ يَعُودُ مِنْكَ إِلَيْهِ.
Artinya:
Bukanlah sahabat sejati orang yang menemanimu agar aibnya kembali kepadamu. Sahabat sejati adalah yang menemanimu agar kebaikanmu mengalir kepadanya, dan tidak ada yang seperti itu kecuali Tuhanmu. Dzat Yang Maha Mulia adalah Dia yang mencarimu bukan demi sesuatu keuntungan yang kembali dari dirimu kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Secara fitrah, sesama makhluk berteman karena mengharapkan timbal balik atau manfa'at keduniaan. Namun, Allah adalah Sahabat Sejati (Ash-Shahib) yang menemani, merawat, dan melindungi hamba-Nya tanpa membutuhkan apa pun dari makhluk. Allah memberi tanpa pamrih, sedangkan manusia cenderung memberi karena butuh.
Hikmah 133: Hakikat Cahaya Keyakinan:
لَوْ أَشْرَقَ نُورُ الْيَقِينِ فِي قَلْبِكَ لَرَأَيْتَ الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ بَهْجَةَ الدُّنْيَا وَكَسْوَةَ الْفَنَاءِ ظَاهِرَةً عَلَيْهَا.
Artinya:
Jika cahaya keyakinan telah memancar terang di dalam hatimu, niscaya kamu akan melihat akhirat itu begitu dekat kepadamu, tanpa perlu kamu melakukan perjalanan ke sana. Dan niscaya kamu akan melihat keindahan dunia ini telah diselimuti oleh kain kefanaan yang nyata.
Syarah Singkat:
Bagi orang yang hatinya dipenuhi oleh nurul-yaqin (cahaya keyakinan), akhirat bukan lagi sesuatu yang jauh di masa depan, melainkan terasa sangat dekat dan nyata sa'at ini juga. Sebaliknya, fatamorgana keindahan dunia akan tampak jelas sebagai sesuatu yang rapuh, rusak, dan akan segera sirna (fana).
Hikmah 134: Tabir Ilahi Melalui Pemberian Makhluk:
مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، إِذْ لَا شَيْءَ مَعَهُ، وَلَكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.
Artinya:
Bukanlah keberadaan sesuatu makhluk di sisi Allah yang menghalangimu dari-Nya, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang bersanding bersama-Nya. Akan tetapi, yang menghalangimu dari Allah adalah persangkaanmu (wahm) bahwa ada sesuatu yang wujud di samping-Nya.
Syarah Singkat:
Secara hakikat tauhid, Allah wujud secara mutlak dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Makhluk-makhluk ini sebenarnya tidak memiliki daya apa-apa. Hati manusia menjadi terhijab (terhalang) dari Allah karena pikiran kita sendiri yang terkelabui oleh ilusi, lalu menganggap dunia dan makhluk ini memiliki kekuatan independen yang bisa memberi manfa'at atau mudarat secara mandiri.
Hikmah 135: Kehadiran Sifat Allah dalam Ciptaan:
لَوْلَا ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ الصِّفَاتِ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ اضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.
Artinya:
Seandainya tidak ada manifestasi (tanda kekuasaan) Allah pada makhluk-makhluk ini, niscaya tidak akan ada sifat-sifat yang tampak pada mereka. Namun, seandainya sifat-sifat-Nya yang agung menampakkan diri-Nya secara langsung, niscaya lebur dan hancurlah seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Syarah Singkat:
Kebaikan, keindahan, dan kekuatan yang kita lihat pada makhluk hanyalah pantulan dari asma dan sifat Allah (seperti Al-Khaliq, Al-Jamil, Al-Qawiy). Allah menampakkan pengaruh sifat-Nya agar kita bisa mengenal-Nya. Namun, jagat raya ini terlalu lemah untuk menanggung tajalli (penampakan) Zat dan Sifat Allah yang sesungguhnya; jika itu terjadi, semua materi akan hancur lebur seperti gunung yang hancur sa'at Allah bertajalli kepada Nabi Musa AS.
Hikmah 136: Kenyataan Lahir dan Bathin:
أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ بِأَنَّهُ الْبَاطِنُ، وَطَوَى وُجُودَ كُلَّ شَيْءٍ بِأَنَّهُ الظَّاهِرُ.
Artinya:
Allah menampakkan segala sesuatu karena Dia Maha Bathin (tidak tampak Zat-Nya), dan Allah melipat keberadaan segala sesuatu karena Dia Maha Zahir (Maha Nyata).
Syarah Singkat:
Karena Allah itu Al-Bathin (Maha Tersembunyi dari pancaindra), Dia menciptakan alam semesta yang zhahir sebagai cermin untuk menunjukkan keagungan-Nya. Namun, di sisi lain, karena kebenaran wujud Allah itu sangat nyata (Azh-Zhahir), keberadaan alam semesta ini seolah-olah sirna dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keagungan wujud-Nya.
Hikmah 137: Penghalang Hakiki Menuju Allah:
مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، وَلَكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.
Artinya:
Bukan keberadaan makhluk (sesuatu) di sisi Allah yang menghalangimu dari-Nya. Namun, yang menghalangimu dari-Nya adalah ilusimu (prasangkamu) bahwa ada sesuatu yang wujud di samping-Nya.
Syarah Singkat:
Alam semesta ini sebenarnya tidak memiliki daya untuk menghalangi seorang hamba dari Tuhannya. Sebab secara hakiki, semua ciptaan hanyalah bayangan yang tidak mandiri dan butuh kepada Allah. Hijab atau penghalang terbesar adalah ketika hati kita menganggap makhluk itu mandiri, memiliki kekuatan sendiri, atau memiliki eksistensi nyata di luar kehendak Allah.
Hikmah 138: Cahaya Keyakinan:
لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُورُ الْيَقِينِ لَرَأَيْتَ الآَخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدْ ظَهَرَتْ كِسْفَةُ الْفَنَاءِ عَلَيْهَا. [1]
Artinya:
Seandainya cahaya keyakinan (nurul-yaqin) menerangimu, niscaya engkau akan melihat akhirat itu terasa sangat dekat kepadamu tanpa perlu menunggu engkau melakukan perjalanan (kematian) menuju ke sana. Dan engkau pun akan melihat keindahan dunia telah tertutup oleh gerhana kefanaan yang redup.
Syarah Singkat:
Bila mata hati (bashirah) telah diterangi oleh keyakinan yang murni, akhirat bukan lagi sekadar konsep masa depan melainkan kenyataan yang hadir di jiwa. Efeknya, segala kemewahan dan keindahan duniawi akan terlihat sirna, layaknya matahari yang mengalami gerhana. Keindahannya menipu dan segera habis.
Hikmah 139: Hakikat Adab dalam Berdo'a:
مَا الشَّأْنُ أَنْ تَطْلُبَ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُرْزَقَ حُسْنَ الأَدَبِ.
Artinya:
Perkara terpenting bukanlah sekadar engkau meminta (berdo'a). Tetapi, yang terpenting adalah engkau dianugerahi adab yang baik sa'at berdo'a.
Syarah Singkat:
Berdo'a adalah bentuk penghambaan ('ubudiyyah). Seringkali manusia fokus pada apa yang mereka minta dan menuntut agar segera dikabulkan. Namun, esensi utama do'a di mata kaum 'arif adalah kesadaran akan kehinaan diri sebagai hamba di hadapan Keagungan Allah, kepasrahan, serta keridhaan atas ketentuan-Nya.
Hikmah 140: Faktor Segeranya Pengabulan Do'a:
مَا طَلَبَكَ لِوُجُودِ اضْطِرَارِكَ بِأَسْرَعَ مِمَّا طَلَبَكَ لِوُجُودِ فَقْرِكَ وَذِلَّتِكَ.
Artinya:
Tidak ada hal yang lebih cepat mendatangkan pemberian Allah kepadamu melebihi rasa butuh yang mendesak (mudhthar), serta rasa fakir dan kehinaan diri yang engkau tampakkan di hadapan-Nya.
Syarah Singkat:
Gerbang utama terkabulnya do'a dan datangnya pertolongan Allah adalah ketika hati seorang hamba benar-benar runtuh, merasa tidak memiliki daya upaya sama sekali (iftiqar), dan mengadu dalam kepasrahan total hanya kepada Allah semata.
Hikmah 141: Hakikat Wushul (Sampai kepada Allah):
لَوْ لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ إِلاَّ بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيكَ، لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَداً. وَلَكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوصِلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ، فَوَصَلْتَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ، لاَ بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ.
Artinya:
Seandainya engkau tidak bisa sampai (wushul) kepada Allah melainkan setelah sirnanya seluruh keburukanmu dan hapusnya semua klaim nafsumu, niscaya engkau tidak akan pernah sampai kepada-Nya selamanya. Namun, jika Allah berkehendak menyampaikanmu kepada-Nya, Dia menutupi sifatmu dengan sifat-Nya dan menutupi keadaanmu dengan keadaan-Nya. Maka engkau pun sampai kepada-Nya karena anugerah yang datang dari-Nya kepadamu, bukan karena usahamu dari dirimu kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Manusia adalah tempatnya salah dan cela. Jika kedekatan dengan Allah diukur murni dari kesucian diri kita tanpa cela, tidak ada satu pun manusia yang sanggup meraihnya. Seseorang bisa wushul semata-mata karena rahmat, karunia, dan tutupan kasih sayang Allah (satrun) yang menyelimuti segala kekurangan hamba tersebut.
Hikmah 142: Sifat Santun Allah pada 'Amal yang Cacat:
لَوْلاَ جَمِيلُ سَتْرِهِ لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلاً لِلْقَبُولِ.
Artinya:
Seandainya bukan karena indahnya tutupan (ampunan) dari Allah, niscaya tidak ada satu pun 'amal 'ibadah yang layak untuk diterima.
Syarah Singkat:
Di dalam 'amal 'ibadah kita, sering kali terselip penyakit hati seperti riya, 'ujub (bangga diri), atau kurang ikhlas. Allah menerima amal ibadah hamba-Nya bukan karena 'amal itu sudah sempurna, melainkan karena kebaikan Allah yang berkenan menutup segala cacat dan cela pada ibadah tersebut.
Hikmah 143: Bahaya Keta'atan yang Membawa Kesombongan:
أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا عَصَيْتَهُ.
Artinya:
Kebutuhanmu terhadap sifat santun (pema'af) Allah ketika engkau sedang ta'at, itu jauh lebih besar daripada kebutuhanmu sa'at engkau sedang berma'shiat.
Syarah Singkat:
Sa'at seseorang berma'shiat, dia biasanya merasa bersalah, hina, dan langsung memohon ampunan. Sebaliknya, sa'at seseorang rajin ber'ibadah (ta'at), ada risiko besar hatinya dijangkiti rasa sombong, merasa lebih suci, atau merendahkan orang lain. Penyakit hati 'akibat ketaatan ini justru sangat membahayakan, sehingga hamba tersebut sangat butuh santunan Allah agar keta'atannya tidak berubah menjadi petaka spiritual.
Hikmah 144: Penutup Segala Cela:
سَتْرُهُ عَلَيْكَ نَوْعَانِ: سَتْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَسَتْرٌ فِيهَا. فَالْعَامَّةُ يَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ السَّتْرَ فِيهَا خَشْيَةَ سُقُوطِ مَرْتَبَتِهِمْ عِنْدَ الْخَلْقِ، وَالْخَاصَّةُ يَطْلُبُونَ السَّتْرَ عَنْهَا خَشْيَةَ سُقُوطِهِمْ مِنْ عَيْنِ الْمَلِكِ الْحَقِّ.
Artinya:
Tutupan (satrun) Allah atas dirimu ada dua macam:
1. Ditutupi dari berbuat ma'shiat (dijaga), dan
2. Ditutupi ketika terlanjur melakukan ma'shiat. Orang awam meminta agar ma'shiatnya ditutupi karena takut jatuh martabatnya di mata makhluk. Sedangkan orang khusus' (khawash) meminta agar dijaga dari ma'shiat karena takut jatuh kedudukannya di hadapan Allah, Sang Raja yang Hakiki.
Syarah Singkat:
Hikmah ini membedakan tingkatan orientasi spiritual. Kaum awam masih terjebak pada pandangan manusia (takut ketahuan berbuat dosa agar reputasinya tidak hancur). Sementara kaum 'arif billah fokusnya hanya kepada pandangan Allah; mereka memohon agar dijaga lahir batin dari berbuat dosa agar hubungan cinta mereka dengan Allah tidak rusak.
Hikmah 145: Keindahan Tutupan Allah:
مَا مَدَحَكَ الْمَادِحُونَ إِلَّا بِمَا ظَنُّوهُ فِيكَ، فَكُنْ أَنْتَ ذَامّاً لِنَفْسِكَ لِمَا تَعْلَمُهُ مِنْهَا.
Artinya:
Tidaklah orang-orang memujimu melainkan karena apa yang mereka duga (baik) tentang dirimu. Maka jadilah engkau orang yang mencela dirimu sendiri karena apa yang engkau ketahui (tentang aibmu) yang ada padanya.
Syarah Singkat:
Pujian orang lain sering kali lahir dari ketidaktahuan mereka akan kelemahan dan dosa-dosa rahasia kita. Allah dengan rahmat-Nya menutup (Sattar) keburukan kita sehingga yang tampak hanya kebaikan. Seorang salik (pejalan spiritual) tidak boleh tertipu oleh pujian manusia dan harus tetap sadar akan kekurangan dirinya agar terhindar dari sifat 'ujub (bangga diri).
Hikmah 146: Orang Arif dan Pujian:
الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ أَنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.
Artinya:
Seorang mumin (yang 'arif), apabila dipuji, akan merasa malu kepada Allah karena ia disanjung dengan suatu sifat yang tidak ia dapati ada pada dirinya.
Syarah Singkat:
Ketika orang mumin sejati menerima pujian atas suatu kesalehan atau kemuliaan akhlak, hatinya justru merasa malu kepada Allah. Ia tahu bahwa ia belum mencapai derajat tersebut dan menyadari bahwa segala kebaikan yang tampak pada dirinya hanyalah titipan serta karunia murni dari Allah.
Hikmah 147: Menghadapi Sanjungan Manusia:
أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِينَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ.
Artinya:
Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang telah ia yakini ada pada dirinya demi mengikuti persangkaan apa yang ada pada manusia.
Syarah Singkat:
Kita sangat meyakini dan tahu persis dosa, kelalaian, serta niat buruk yang terbersit di dalam hati kita sendiri. Sebaliknya, manusia hanya menduga-duga kebaikan kita. Sungguh bodoh jika kita mengabaikan keyakinan tentang keburukan diri sendiri lalu mempercayai persangkaan baik orang lain hingga merasa diri suci.
Hikmah 148: Membalas Pujian dengan Mengembalikan pada Allah:
إِذَا أَطْلَقَ الثَّنَاءَ عَلَيْكَ وَلَسْتَ بِأَهْلٍ فَأَثْنِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ.
Artinya:
Jika Allah menggerakkan lidah manusia untuk memujimu padahal engkau tidak layak dipuji, maka pujilah Allah karena Dialah yang berhak atas segala pujian.
Syarah Singkat:
Sa'at menerima pujian yang dirasa berlebihan, alihkan pujian itu kepada Allah. Akui dalam hati: "Ya Allah, pujian ini sejatinya milik-Mu yang telah menutupi aibku. Aku memuji-Mu atas kebaikan, keindahan, dan tirai penutup yang Engkau anugerahkan.
Hikmah 149: Dunia Sebagai Medan Perjuangan Nafsu:
لَوْلَا مَيَادِينَ النُّفُوسِ مَا تَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِينَ؛ إِذْ لَا مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَطْوِيَهَا رِحْلَتُكَ، وَلَا قِطْعَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَمْحُوَهَا وُصْلَتُكَ.
Artinya:
Kalaulah bukan karena adanya medan perjuangan melawan hawa nafsu, niscaya tidak akan terbukti perjalanan para pejalan spiritual (salik). Sebab, tidak ada jarak ruang antara engkau dan Allah yang harus ditempuh oleh perjalananmu, dan tidak ada keterputusan antara engkau dan Dia yang harus dihapuskan oleh perjumpaanmu.
Syarah Singkat:
Perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan fisik berpindah tempat karena Allah tidak terikat ruang. Perjalanan spiritual adalah perjuangan bathin menundukkan nafsu, membersihkan hati, dan mengikis ego. Ujian nafsu di dunia ini sengaja diciptakan sebagai sarana pembuktian ketulusan hamba menuju Tuhannya.
Hikmah 150: Terjebak pada Karamah dan Pemberian:
أَقَامَكَ فِي الْكَوْنِ لِتَشْهَدَ مَا فِيهِ، وَأَقَامَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ لِتَشْهَدَ مَا مِنْهُ.
Artinya:
Allah menempatkanmu di alam semesta agar engkau menyaksikan apa yang ada di dalamnya, dan Dia menempatkanmu di hadapan-Nya agar engkau menyaksikan apa yang bersumber dari-Nya.
Syarah Singkat:
Sebagai makhluk biasa, kita melihat hukum sebab-akibat di alam semesta. Namun, bagi seorang hamba yang telah didekatkan, fokusnya beralih dari sekedar melihat makhluk atau mengagumi karamah (kelebihan spiritual) menuju penyaksian langsung terhadap kebesaran Sang Pencipta. Jangan sampai perhatian hati kita terhenti pada keajaiban dunia atau karamah, melainkan harus terus tertuju kepada Allah semata. Hikmah 151: Tutur Kata Sesuai Kesiapan Pendengar:
العِباراتُ قُوتٌ لِعائِلَةِ المُسْتَمِعينَ، وَلَيْسَ لَكَ إلاّ ما أنْتَ لَهُ آكِلٌ.
Artinya:
Tutur kata yang bijak itu 'ibarat hidangan makanan bagi keluarga pendengar, dan jatahmu (yang bermanfa'at bagimu) hanyalah apa yang mampu engkau makan (pahami) darinya.
Syarah Singkat:
Seorang pembicara atau guru sufi menyampaikan nasihat spiritual seperti menyajikan makanan. Namun, tidak semua pendengar bisa menyerap seluruh nasihat tersebut. Manfa'at yang didapat oleh seorang salik (pejalan spiritual) terbatas pada sejauh mana kapasitas hati dan kesiapan bathinnya dalam menerima kebenaran tersebut.
Hikmah 152: Dua Kondisi Orang yang Mengungkapkan Maqam:
رُبَّما عَبَّرَ عَنِ المَقامِ مَنْ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّما عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ إلَيْهِ، وَذلِكَ يَلْتَبِسُ إلاّ عَلى صاحِبِ البَصيرَةِ.
Artinya:
Bisa jadi orang yang menerangkan suatu tahapan spiritual (maqam) adalah orang yang baru sekedar memandangnya (ingin sampai ke sana). Dan kadang pula orang itu memang telah sampai (wushul) pada tahapan yang dimaksud. Yang demikian itu tampak samar, kecuali bagi orang yang memiliki ketajaman mata batin (bashirah).
Syarah Singkat:
Ada perbedaan besar antara orang yang berbicara tentang hakikat Tuhan karena baru membaca atau melihat sekilas pintas (teoretis), dengan orang yang berbicara karena mengalami langsung (dzauq). Bagi orang awam, keduanya terdengar sama. Namun, bagi ahli bashirah, getaran ruhani pembicara yang sudah wushul akan sangat terasa bedanya.
Hikmah 153: Syarat Bermanfa'atnya Nasihat:
لا يَنْبَغي لِلْمُعَبِّرِ أَنْ يُعَبِّرَ إلاّ لِمَنْ لَهُ أَمْرٌ بِالتَّعْبيرِ، أَوْ لِمَنْ فَهِمَ عَنْ اللهِ تَعالى فِي التَّفْسِيرِ.
Artinya:
Tidak seyogyanya bagi seorang pembicara (pemberi nasihat) berbicara kecuali jika ia telah mendapat izin (isyarat rohani) untuk berbicara, atau bagi orang yang memiliki pemahaman yang benar dari Allah Ta'ala dalam menafsirkan kebenaran.
Syarah Singkat:
Mengajarkan ilmu tauhid dan tasawwuf bukan sekadar retorika. Seseorang baru boleh menyampaikan rahasia-rahasia batin jika ia telah diberi izin oleh Allah (atau mursyidnya) atau diberikan ilham langsung yang valid. Jika tidak, bicaranya hanya didorong oleh syahwat tersembunyi untuk tampil atau dipuji.
Hikmah 154: Efek Ucapan yang Keluar dari Hati:
كُلُّ كَلامٍ بَرَزَ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ القَلْبِ الَّذِي مِنْهُ بَرَزَ.
Artinya:
Setiap ucapan yang keluar itu mengenakan pakaian sesuai dengan kondisi hati dari mana ucapan itu terpancar.
Syarah Singkat:
Kata-kata adalah cerminan hati. Jika hati seseorang dipenuhi keikhlasan dan cahaya ilahi, kata-katanya akan berbekas dan menghidupkan hati pendengarnya. Sebaliknya, jika perkataan lahir dari hati yang penuh riya atau kesombongan, ucapan itu akan terasa hambar dan tidak membawa perubahan bagi yang mendengar.
Hikmah 155: Hubungan Panjang Umur dan Berkah (Madad):
رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمادُهُ وَقَلَّتْ أمْدادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَليلَةٌ آمادُهُ كَثيرَةٌ أمْدادُهُ.
Artinya:
Kadang umur berlangsung panjang namun manfa'atnya (kucuran anugerahnya) sedikit. Kadang pula umur berlangsung pendek namun manfa'at dan keberkahannya melimpah.
Syarah Singkat:
Nilai kehidupan seorang mumin tidak diukur dari kuantitas angka tahunnya, melainkan dari kualitas 'amal dan kedekatannya kepada Allah di waktu tersebut. Banyak 'ulama atau wali Allah yang usianya pendek (seperti Imam Syafi'i atau Imam Nawawi) namun warisan ilmunya abadi hingga berabad-abad karena berkah yang luar biasa.
Hikmah 156: Meraih Banyak Karunia dalam Waktu Singkat:
مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمُرِهِ أَدْرَكَ فِي قَصيرٍ مِنَ الزَّمانِ مِنِ مِنَنِ اللهِ تَعالى ما لا يَدْخُلُ تَحْتَ دَوائِرِ العِبارَةِ وَلا تَلْحَقُهُ إشاراتُ الإِماحِ.
Artinya:
"Barangsiapa yang dianugerahi berkah dalam umurnya, niscaya ia mampu meraih karunia dari Allah Ta'ala dalam waktu singkat, suatu karunia yang tidak dapat digambarkan oleh lingkaran kata-kata dan tidak terjangkau oleh isyarat yang paling samar sekalipun.
Syarah Singkat:
Ini adalah kelanjutan dari hikmah sebelumnya mengenai barakah (keberkahan). Ketika Allah melipatgandakan waktu bagi seorang hamba, ia mampu melakukan lompatan spiritual (thayyal-waqt) dan meraih derajat ma'rifat yang sangat tinggi yang tidak bisa dinalar secara matematis manusia biasa.
Hikmah 157: Larangan Mengandalkan Makhluk:
الخِذْلانُ كُلُّ الخِذْلانِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّواغِلِ ثُمَّ لا تَتَوَجَّهَ إلَيْهِ، وَتَقِلَّ عوائِقُكَ ثُمَّ لا تَرْحَلَ إلَيْهِ.
Artinya:
Keterpurukan yang sebenar-benarnya buruk (kebangkrutan spiritual) adalah ketika engkau telah dibebaskan dari kesibukan duniawi namun engkau tidak menghadap kepada-Nya, dan ketika rintanganmu telah berkurang namun engkau tidak melangkah menuju kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Sering kali manusia beralasan tidak bisa ber'ibadah khusyuk karena sibuk mencari nafkah atau mengurus dunia. Namun, ketika Allah memberikan kelapangan harta, waktu luang, dan kesehatan, ia justru tetap lalai dan sibuk bersenang-senang dengan dunianya. Kondisi ini adalah bentuk khidznan (dibiarkan tersesat dan dijauhkan dari pertolongan Allah. Hikmah 158: Keutamaan Terus Berdzikir:
لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى المَذْكُورِ، {وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ}
Artinya:
Janganlah kamu meninggalkan dzikir hanya karena kamu belum bisa menghadirkan hati bersama Allah di dalamnya. Sebab, kelalaianmu sa'at benar-benar tidak berdzikir jauh lebih berbahaya daripada kelalaiyanmu sa'at sedang berdzikir. Semoga Allah menaikkan derajatmu dari dzikir yang lalai (ghaflah) menuju dzikir yang sadar (yaqzhah), dari dzikir yang sadar menuju dzikir yang hadir (hudhur), dan dari dzikir yang hadir menuju dzikir yang fana (lenyap) dari segala sesuatu selain Dzat yang diingat (al-ghaibatu 'amma siwa al-madzkur). Dan yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
Syarah Singkat:
Jangan menunggu hati khusyu' baru mau berdzikir. Menggerakkan lidah untuk mengingat Allah.Meski pikiran melayang,jauh lebih baik daripada diam dan melupakan-Nya sama sekali. Dzikir lisan adalah tangga pertama menuju khusyu'nya hati.
Hikmah 159: Tanda Matinya Hati:
مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ القَلْبِ عَدَمُ الحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ المُوافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ
Artinya:
Di antara tanda-tanda matinya hati adalah tidak adanya rasa sedih atas terlewatnya kesempatan melakukan keta'atan ('ibadah), serta hilangnya rasa sesal atas dosa-dosa yang telah kamu perbuat.
Syarah Singkat:
Hati yang sehat akan merasa perih jika kehilangan waktu untuk ber'ibadah dan merasa bersalah sa'at tergelincir berbuat dosa. Jika seseorang melakukan ma'shiat namun merasa biasa-biasa saja, atau meninggalkan shalat/kebaikan tanpa ada rasa rugi, itu adalah alarm bahwa hatinya sedang mati.
Hikmah 160: Ujian dan Kepedihan di Dunia:
لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا
Artinya:
Janganlah kamu merasa heran atas terjadinya kepedihan, kesulitan, atau musibah selama kamu masih hidup di dunia ini. Karena dunia ini tidaklah menampakkan sesuatu melainkan apa yang sudah menjadi sifat asli dan karakternya.
Syarah Singkat:
Dunia diciptakan sebagai tempat ujian, bukan tempat kesenangan abadi (surga). Kekecewaan, sakit, dan masalah hidup adalah hal yang wajar. Dengan memahaminya, seorang hamba tidak akan mudah stres atau putus asa ketika ditimpa musibah.
Hikmah 161: Peran Nafsu dalam Ma'shiat dan Keta'atan:
مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ، وَلَا تَسَرَّ عَمَلٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ
Artinya:
Tidak akan pernah terhenti (gagal) suatu urusan yang kamu cari dengan bersandar pada pertolongan Tuhanmu; dan tidak akan pernah mudah suatu urusan yang kamu cari dengan mengandalkan kekuatan nafsumu (dirimu sendiri).
Syarah Singkat:
Keberhasilan sepiritual maupun duniawi sangat bergantung pada tauhid. Jika kita mengandalkan Allah, jalan yang buntu pun akan terbuka. Namun jika kita sombong dan merasa bisa mengandalkan kecerdasan atau kekuatan diri sendiri, Allah akan melepaskan pertolongan-Nya dan kita akan menemui kegagalan.
Hikmah 162: Bahaya Riya dan 'Ujub:
رُبَّمَا فُتِحَ لَكَ بَابُ الطَّاعَةِ وَمَا فُتِحَ لَكَ بَابُ القَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الوُصُولِ
Artinya:
Terkadang Allah membukakan pintu keta'atan bagimu, namun tidak membukakan pintu penerimaan (al-qabul). Dan terkadang Dia menakdirkanmu tergelincir dalam dosa, namun dosa itu justru menjadi sebab kamu sampai kepada-Nya (al-wushul)."
Syarah Singkat:
Hikmah ini sangat mendalam. Orang yang rajin ber'ibadah bisa terhijab dari Allah karena muncul sifat 'ujub (bangga diri) dan memandang rendah orang lain, sehingga 'amalnya ditolak. Sebaliknya, ada orang yang berbuat dosa, lalu ia sangat menyesal, menangis, merasa hina, dan tunduk di hadapan Allah; rasa butuh dan hancurnya hati itulah yang membuatnya wushul (sampai) pada keridhaan Allah.
Hikmah 163: Hakikat Keta'atan yang Benar:
مَعْصِيَّةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا
Artinya:
Kema'shiatan yang melahirkan rasa hina dan sangat butuh kepada pertolongan Allah, itu jauh lebih baik daripada keta'atan yang memicu rasa mulia dan kesombongan.
Syarah Singkat:
Hikmah ini adalah penjelasan dari bait sebelumnya. Allah tidak menyukai kesombongan. Inti dari 'ibadah adalah menghadirkan rasa rendah diri di hadapan Sang Pencipta. Jika 'ibadah membuat seseorang merasa lebih suci dari orang lain, keta'atan tersebut telah ternoda.
Hikmah 164: Ni'mat yang Mengiringi Setiap Makhluk
نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُودٌ عَنْهُمَا، وَلَا بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا: نِعْمَةُ الإِيجَادِ، وَنِعْمَةُ الإِمْدَادِ
Artinya:
Ada dua kenikmatan yang tidak satu pun makhluk hidup terlepas darinya, dan setiap ciptaan pasti membutuhkannya: yaitu ni'mat penciptaan (ni'matul ijad) dan ni'mat keberlangsungan hidup (ni'matul imdad).
Syarah Singkat:
1. Pertama, Allah memberi kita ni'mat Ijad, yaitu mewujudkan kita dari yang awalnya tidak ada menjadi ada.
2. Kedua, ni'mat Imdad, yaitu Allah terus memberikan fasilitas hidup (napas, rezeki, kesehatan) setiap detik agar kita bisa bertahan hidup di dunia ini.
Hikmah 165: Rincian Keni'matan Allah:
أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلًا بِالإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الإِمْدَادِ
Artinya:
Dia melimpahkan ni'mat kepadamu pada tahap pertama dengan penciptaan (al-ijad), dan pada tahapan kedua dengan pemberian sarana hidup yang tiada putus-putusnya (tawali al-imdad)."
Syarah Singkat:
Penegasan bahwa segala sesuatu yang melekat pada diri kita murni adalah pemberian Allah. Tanpa diciptakan (ijad) kita bukan apa-apa, dan tanpa disokong (imdad) kita akan langsung binasa. Sifat ini menuntut hamba untuk selalu bersyukur dan tidak sombong.
Hikmah 166: Penyebab Allah SWT. Terhijab dari Manusia:
Sesungguhnya hal yang menghalangi (terhijabnya) manusia dari Allah adalah karena teramat dekatnya Dia kepada mereka.
Syarah Singkat:
Allah seolah tidak terlihat bukan karena Dia jauh, melainkan karena Dia terlampau dekat dengan hamba-Nya. Secara psikologis dan indrawi, sesuatu yang menempel atau terlampau dekat dengan mata justru tidak akan bisa dilihat dengan jelas. Keterbatasan akal dan batin manusialah yang membuat mereka gagal menyadari kehadiran Allah yang meliputi segala sesuatu.
Dia terhijab karena kejelasan eksistensi-Nya yang sangat tinggi, dan Dia tersembunyi dari pandangan makhluk karena keagungan cahaya-Nya.
Syarah Singkat:
Sebagaimana mata manusia tidak mampu menatap matahari yang terik secara langsung bukan karena matahari itu tidak ada, melainkan karena cahayanya terlalu kuat untuk ditangkap indra. Begitu pula dengan Allah; keterbatasan kapasitas bathin makhluk membuat keagungan cahaya-Nya justru tampak seperti tabir (hijab).
Artinya:
Jangan sampai permintaanmu dijadikan sebagai penyebab pemberian dari Allah SWT; karena hal itu menunjukkan minimnya pemahamanmu tentang-Nya. Jadikanlah permintaanmu sebagai wujud penampakan kehambaan ('ubudiyah) dan pemenuhan hak-hak rububiyah.
Syarah Singkat:
Ketika berdo'a, jangan mengira bahwa Allah memberi karena paksaan atau pengaruh do'a kita. Allah Maha Dermawan dan telah menetapkan segala sesuatu. Kita berdo'a bukan untuk mendikte Allah, melainkan untuk mengakui kefakiran diri dan menunjukkan adab bahwa kita adalah seorang hamba yang butuh kepada Sang Pencipta.
Artinya:
Bagaimana mungkin permintaanmu yang baru datang belakangan menjadi sebab bagi pemberian-Nya yang telah terdahulu (sejak zaman azali)?
Syarah Singkat:
Semua karunia, takdir, dan pembagian rezeki telah ditetapkan oleh Allah di zaman azali (sebelum alam semesta diciptakan). Do'a yang kita panjatkan hari ini berada di garis waktu yang belakangan, sehingga mustahil sesuatu yang baru menjadi sebab bagi keputusan Allah yang sudah qadim (dahulu tanpa awal). Do'a hanyalah jalan 'ibadah yang diselaraskan dengan takdir-Nya.
Artinya:
Maha Suci keputusan azali dari ketergantungan pada sebab-sebab ('ilat).
Syarah Singkat:
Keputusan dan kehendak Allah bersifat mutlak dan mandiri. Allah tidak membutuhkan alasan, perantara, ataupun 'amal 'ibadah makhluk untuk menetapkan sesuatu. Segala sesuatu terjadi murni karena kehendak dan rahmat-Nya, bukan karena hukum sebab-akibat yang dibuat oleh manusia.
Hikmah 171: Kandungan Zaman Azali:
عِنَايَتُهُ فِيْكَ لَا لِشَيْءٍ مِنْكَ، وَأَيْنَ كُنْتَ حِيْنَ وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ، وَقَابَلَتْكَ رِعَايَتُهُ؟
Artinya:
Perhatian ('inayah) Allah kepadamu bukan karena sesuatu 'amal yang ada pada dirimu. Di manakah engkau berada ketika perhatian dan pemeliharaan-Nya telah diarahkan kepadamu?
Syarah Singkat:
Sa'at Allah menetapkan bahwa Anda akan menjadi seorang mumin atau mendapatkan hidayah di zaman azali, Anda bahkan belum diciptakan dan belum punya amal apa-apa. Ini adalah tamparan spiritual agar manusia tidak sombong dengan 'amalnya, karena segala keselamatan murni berasal dari kasih sayang Allah yang mendahului eksistensi makhluk.
Hikmah 172: Ketetapan Azali dan Motivasi Beramal:
لَمْ يَكُنْ فِي أَزَلِهِ إِخْلَاصُ أَعْمَالٍ، وَلَا وُجُودُ أَحْوَالٍ. بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلَّا مَحْضُ الْإِفْضَالِ، وَعَظِيْمُ النَّوَالِ.
Artinya:
Di zaman azali, belum ada keikhlasan 'amal dan belum ada kondisi bathin (ahwal). Yang ada di sana hanyalah murni anugerah dan pemberian yang Maha Agung.
Syarah Singkat:
Segala bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan sa'at ini (seperti shalat khusyu' atau ikhlas) adalah buah dari anugerah azali Allah. Kita tidak bisa menukar 'amal kita dengan surga, karena 'amal itu sendiri bisa wujud hanya karena pertolongan dan fasilitas dari Allah.
Hikmah 173: Kehendak Allah sebagai Tempat Bergantung:
عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّفُونَ إِلَى ظُهُورِ سِرِّ الْعِنَايَةِ، فَقَالَ: يُخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ. وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ خَلَّاهُمْ وَذَلِكَ لَتَرَكُوا الْعَمَلَ اعْتِمَادًا عَلَى الْأَزَلِ، فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.
Artinya:
Allah mengetahui bahwa para hamba sangat ingin melihat rahasia takdir ('inayah), maka Dia berfirman: "Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki." Dan Dia pun mengetahui bahwa jika mereka dibiarkan begitu saja, mereka akan meninggalkan 'amal karena bersandar pada takdir azali, maka Dia berfirman: "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik'.
Syarah Singkat:
Hikmah ini memberikan keseimbangan antara Tauhid (takdir) dan Syari'at ('amal). Di satu sisi kita harus yakin bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah agar kita tidak sombong. Di sisi lain, Allah tetap memerintahkan kita untuk berbuat baik dan beramal, karena rahmat dan tanda keselamatan itu dijanjikan bagi mereka yang berikhtiar (Muhsinin).
Hikmah 174: Perintah Berdo'a sebagai Bentuk Penghambaan:
مَا طَالَبَكَ إِلَّا لِتَطْلُبَهُ، وَلَا أَقَامَكَ فِي الطَّلَبِ إِلَّا لِيُقَرِّبَكَ إِلَيْهِ.
Artinya:
Allah tidak memerintahkanmu untuk berdo'a melainkan agar kamu meminta kepada-Nya, dan tidak pula Dia menempatkanmu dalam posisi berdo'a melainkan agar Dia mendekatkanmu kepada-Nya.
Syarah Singkat:
Inti dari do'a bukanlah terpenuhinya semua keinginan kita, melainkan wujud kepasrahan dan interaksi langsung seorang hamba dengan Sang Pencipta. Ketika Allah menggerakkan lisanmu untuk berdo'a, ketahuilah bahwa Dia sedang ingin mendekatkan kedudukanmu di sisi-Nya.
Hikmah 175: Memperbaiki Adab dalam Berdo'a:
لَا تُطَالِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِ مَطْلَبِكَ، وَلَكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِ أَدَبِكَ.
Artinya:
Janganlah kamu menuntut Tuhanmu karena terlambatnya pengabulan permintaanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena terlambatnya adabmu dalam ber'ibadah.
Syarah Singkat:
Ketika do'a terasa lambat dikabulkan, seorang salik (pejalan spiritual) dilarang berprasangka buruk kepada Allah. Alih-alih menyalahkan keadaan atau menuntut waktu, koreksilah diri sendiri!.apakah adab, keikhlasan, dan kewajiban kita kepada Allah sudah dipenuhi dengan benar?
Hikmah 176: Hikmah di Balik Datangnya Kesulitan:
إِذَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ وَارِدًا لِيَبْعَثَكَ بِهِ، فَلَا يَكُنْ هَمُّكَ فِيهِ إِلَّا وُجُودَ الرِّضَا بِهِ.
Artinya:
Jika Allah mendatangkan suatu ketetapan (kesulitan/ujian) kepadamu untuk membangkitkan (kesadaran) rohanimu, maka janganlah ada keinginan lain di dalam hatimu selain melahirkan rasa ridha atas ketetapan tersebut.
Syarah Singkat:
Setiap ujian atau kesulitan yang hadir dalam kahidupan sebenarnya adalah sarana dari Allah untuk membangunkan hati yang lalai. Fokus utama kita sa'at ditimpa musibah adalah bagaimana menata hati agar bisa ridha terhadap takdir-Nya.
Hikmah 177: Ujian Menyingkap Sifat Kemanusiaan:
مَا اسْتَشْرَفَتْ نُفُوسُ الْمُسْتَشْرِفِينَ إِلَى شَيْءٍ إِلَّا لِتَكُونَ بِهِ مَحْجُوبَةً، وَلَا وَقَعَتْ فِي الْبَلَاءِ إِلَّا لِتَكُونَ بِهِ مَشْهُودَةً.
Artinya:
Tidaklah jiwa orang-orang yang penuh ambisi mendambakan sesuatu, melainkan hal itu akan menjadi penghijab (penghalang) bagi mereka, dan tidaklah mereka dijatuhkan ke dalam ujian melainkan agar mereka disaksikan dalam ketundukannya kepada Allah.
Syarah Singkat:
Berambisi mengejar dunia atau hal ghaib justru bisa menutup mata hati (mata hati) dari memandang Allah. Di sisi lain, diturunkannya mushibah atau ujian berfungsi untuk mematahkan ego manusia agar ia kembali bersimpuh menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk.
Hikmah 178: Kesulitan yang Berbuah Anugerah:
رُبَّمَا كَانَ الْبَلَاءُ مِنْهُ عَطَاءً، وَرُبَّمَا كَانَ الْعَطَاءُ مِنْهُ مَنْعًا.
Artinya:
Bisa jadi ujian (kesulitan) dari Allah itu hakikatnya adalah anugerah, dan bisa jadi pemberian ni'mat dari-Nya justru merupakan bentuk penahanan (ujian).
Syarah Singkat:
Tidak semua yang tampak buruk itu buruk untuk agamamu. Kerap kali melalui kemiskinan atau sakit, seseorang justru menjadi hamba yang rajin berdzikir dan berdo'a. Sebaliknya, limpahan harta yang membuat lalai justru merupakan bentuk istidraj (hukuman yang berbalut kenikmatan).
Hikmah 179: Menunjukkan Kefakiran Diri Kepada Allah:
تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بَطَنَ فِيكَ مِنَ الْعُيُوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوبِ.
Artinya:
Fokus perhatianmu terhadap cacat/aib yang tersembunyi di dalam dirimu, itu jauh lebih baik daripada ambisimu untuk menyingkap hal-hal ghaib yang dihijab darimu.
Syarah Singkat:
Banyak pejalan spiritual yang terjebak ingin memiliki kekeramatan (karamah) atau melihat hal ghaib. Padahal, tingkat kewalian tertinggi adalah sa'at seseorang sibuk mengoreksi penyakit hatinya sendiri (seperti riya, hasad, dan sombong) agar jiwanya menjadi suci.
Hikmah 180: Keikhlasan dalam Beramal:
لَا يَكُنْ طَلَبُكَ لِتُجْزَى عَلَى الْعَمَلِ، وَلَكِنْ يَكُنْ طَلَبُكَ لِتُحَقِّقَ الْعُبُودِيَّةَ لِلَّهِ.
Artinya:
Janganlah tuntutanmu (dalam beramal) bertujuan untuk mendapatkan balasan, tetapi jadikanlah tuntutanmu itu sebagai wujud nyata dari penghambaanmu kepada Allah.
Syarah Singkat:
Seorang hamba yang sejati ber'ibadah bukan karena ingin dipuji manusia atau sekadar mengejar pamrih duniawi. Ia ber'amal semata-mata karena sadar dirinya adalah seorang hamba yang wajib tunduk dan patuh pada titah Tuannya (Allah SWT).
Hikmah 181: Hakikat Karamah dan Istiqamah:
كَرَامَةٌ تُعْطَى لِمَنْ لَا تُعْرَفُ لَهُ كَرَامَةٌ، وَأَعْظَمُ الْكَرَامَةِ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ.
Artinya:
Kemuliaan (karamah) terkadang diberikan kepada orang yang tidak dikenal memiliki karamah luar biasa, padahal karamah yang paling agung adalah kemampuan untuk menjaga istiqamah.
Syarah Singkat: Jangan silau oleh orang yang bisa terbang atau berjalan di atas air. Syekh Ibnu 'Athaillah menegaskan bahwa karamah yang paling hakiki dan paling dicintai oleh Allah adalah ketika seorang hamba mampu konsisten (istiqamah) dalam keta'atan dan menjauhi ma'shiat hingga akhir hayatnya.